Tuesday, August 12, 2014

Cerita Perjalanan Research Camp 2013

Research Camp 2013 adalah awal dari sebuah persahabatan.
Titik puncak dari kenyamanan menjadi anggota KSM.
Yes! Turning point dari kehidupanku selama disini.

Semua berawal dari kedatanganku pada suatu krida di sekre KSM.
Saat itu hari Rabu, aku memang sudah berniat untuk mencari tahu tentang Open Tender Research Camp 2013. Setelah selesai krida, aku bertanya kepada Kak Adit mengenai program ini. Jujur, aku masih belum mengenal program ini secara mendalam. Tak disangka, Kak Adit menjelaskan program ini dengan panjang lebar, sampai akhirnya ia memintaku untuk mencoba mengikuti seleksi open tender itu. Saat itu ingat benar aku mengajukan pertanyaan, “Apakah boleh Research Camp diadakan di Jawa?”. Kak Adit menjawab boleh. Lalu dengan berani aku mengajukan Ponorogo sebagai lokasi penelitian. Selain karena urgensi Kampung Idiot di Ponorogo, lokasi ini aku pilih karena urusan pribadiku yang iri akan kedatangan mahasiswa dari M*lang yang melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat serupa di daerahku. Iya, rasa iri itu muncul karena mahasiswa itu bukan orang Ponorogo, dan sebagai putra daerah seharusnya aku lebih peduli dibanding mereka. Namun, apa boleh dikata. Ternyata NTB memiliki daya tarik lebih dibanding Ponorogo. Tidak ada rasa penyesalan sedikitpun dalam benakku ketika Ponorogo tidak terpilih sebagai lokasi RC. Aku membayangkan alangkah indahnya melakukan penelitian bersamaan dengan berwisata di pulau seribu masjid itu.
Menjadi bagian dari RC 2013 berawal dari sebuah perjalanan di malam hari dari Pusgiwa menuju Kutek. Saat itu ada Kak Andre, Nuri, dan beberapa teman lainnya. Di tengah-tengah pembicaraan mengenai konsep RC 2013, tetiba Nuri menawariku untuk menjadi Wakil Ketua Pelaksananya. Aku cukup terperangah karena aku pikir Nuri sudah menyiapkan timnya sejak sebelum ia mendaftarkan diri untuk mengikuti open tender. Pinangan itu baru aku jawab keesokan harinya setelah mempertimbangkan kegiatan-kegiatanku yang lain. Akhirnya kami pun jadian. *Elah*
Beberapa hari setelah berdiskusi mengenai konsep RC 2013, aku berhasil menyelinapkan Nuri untuk tidur di kosanku (dulu masih di Puri Astuti). Semalaman kami berdiskusi mengenai struktur kepanitiaan RC 2013. Kala itu, aku masih belum terlalu dekat dengan Nuri, jadi masih muncul sikap canggung di antara kami berdua. Aku mencoba untuk memperkenalkan sikap-sikap yang ada dalam diriku, sehingga akan mempermudah cara kami berkomunikasi. Apalagi aku adalah tipe orang yang tidak biasa begadang, beberapa kali dengan tidak sengaja (mungkin) aku ketiduran di tengah-tengah diskusi. Namun, Nuri menerimanya dengan senyuman simpul. Pagi harinya, struktur kepanitiaan dan jobdesc dari masing-masing departemen berhasil disusun. Insight yang aku dapat dari bermalam bersama Nuri adalah mengategorikan Nuri ke dalam orang yang serius dan susah bercanda. Beberapa kali aku mencoba untuk membuat candaan dan hasilnya selalu nihil. Tanggapan paling maksimal yang diberikan Nuri adalah, “haha”. Lalu dalam hatiku muncul keinginan untuk mengubah Nuri menjadi orang yang lebih terbuka dan suka bercanda *keliatannya sekarang udah berhasil deh, :3*
Setelah struktur dan jobdesc siap dipublikasikan, kami melakukan perekrutan anggota, staffing, rapat pleno, dan rapat bidang. Semua kegiatan itu berjalan seperti tipikal kegiatan di kepanitiaan lain. Setelah memastikan semua berjalan dengan baik, atas izin Nuri dan Kak Andre, aku pulang kampung ke Ponorogo untuk melaksanakan kewajibanku sebagai anak yang berbakti kepada orang tua. Suatu malam, aku ingat betul saat itu aku baru pulang dari masjid, aku menerima sms dari Nuri yang mengatakan dia akan pergi ke NTB untuk advance. Kaget bukan kepalang hamba Ya Allah! Aku buru-buru mengisi pulsa telepon lalu menelepon Kak Andre terlebih dahulu untuk menanyakan komentarnya terkait hal ini. Kak Andre juga sedikit bingung dan kurang setuju karena advance ini terkesan sangat dadakan dan kurang persiapan. Setelah selesai bertelepon dengan Kak Andre, aku langsung menghubungi Nuri. Katanya, dia akan berangkat ke NTB seminggu lagi, SENDIRIAN! Ia menyatakan hal itu dengan yakin. Bahkan ia sudah membeli tiket berangkat. Aku menanyakan segala macam surat menyurat yang dibutuhkan untuk perizinan. Katanya, surat dari rektorat bisa menyusul, yang paling penting adalah surat dari KSM. Toh, disana juga ada Ela. Dengan kurang bahagia aku menerima keputusan Nuri. (curhat ya) Sedihnya, sebelumnya Nuri tidak menceritakan kalau ia akan berangkat advance seminggu lagi. Bahkan tidak bercerita ketika ia memesan tiket perjalanannya. Tapi karena tiket sudah dibeli dan surat perizinan juga sudah siap. Apa mau dikata. Aku tetap menyemangati dan mendukung Nuri 100%. Hehehe. Tapi it’s all back to alright. Alright. Alright.
Beberapa saat setelah Nuri kembali dari advance, kami melakukan pematangan konsep. Anggota RC dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan isu yang dipaparkan Nuri dari hasil advancenya. Selain itu, kami juga disibukkan dengan berbagai macam kegiatan pencarian dana (danus), mulai dari menonton acara TV, berjualan baju bekas, berjualan kue di kampus, dan berjualan makanan dan minuman di sekitar Rotunda dan menyebarkan proposal sponsorship di beberapa perusahaan. Tak disadari, kegiatan pencarian dana yang menyita banyak waktu kami ini justru menjadi kegiatan paling berkesan karena perjuangan mempersiapkan benda-benda yang akan dijual mengharuskan kami untuk berkumpul lebih lama sambil bercanda ria…di dapur Puri Astuti. Aih, kosan itu, jadi kangen.

Proses Pembuatan Research Design
Aku tergabung ke dalam kelompok penelitian mengenai remitansi. Sekelompok dengan Edy, Hafiz, Kak Adit, dan Kamilah. Pembuatan reasearch design ini cukup menyita waktu mengingat itu bukan materi yang biasa aku pelajari sehari-hari di kampus. Namun, aku anggap ini suatu tantangan dan pembelajaran baru. Kami menjamah berbagai macam tempat untuk berdiskusi mengenai penelitian ini. Sampai pada suatu malam tanggal 31 Desember 2013, aku dan Edy masih berkutat mengerjakan Bab I di FH >< Dan yeah! Kami mendengar riuhnya kembang api perayaan tahun baru dari bangku di depan mushola FH. Iya, FH.
Research design kami mengalami beberapa revisi dari dosen pembimbing. Revisi ini mengharuskan kami terus mengupdate gdocs dan melakukan pembagian kerja yang baik. Aku selalu berusaha untuk menyeimbangkan peranku sebagai anggota tim penelitian dan peranku sebagai Wakil Ketua Pelaksana yang harus mengurusi berbagai macam hal yang lain. Untungnya, semua dapat berjalan seiya sekata. #pfffrt

Advance Kedua
D-DAY berangkat ke NTB!
Hari ini, aku, Ghivo, dan Ela akan pergi ke NTB lebih awal dibanding yang lain untuk advance kedua. Kami melakukan persiapan malam sebelum keberangkatan dengan berkumpul di teras kosanku. Iya, Puri Astuti. Hahaha. Kami makan nasi goreng Bang Bewo bareng dan makan pecel pincuk yang dibeli Ghivo. Ela bercerita kalau siangnya, ia baru saja terpeleset dan badannya sakit-sakit. Elaa, seharusnya kamu menolak untuk diajak kumpul kalau kondisi kamu kayak gitu >.< Anyway, kami berdiskusi hingga pukul 10 malam (batas waktu kosan ditutup) dan membuat janji untuk berkumpul di area Margonda untuk bersama-sama menuju bandara CGK.
*cut* *cut* *cut*
Kurang lebih 2 jam terlewati di udara, kami melupakan sejenak masalah yang terjadi pagi itu. Kami memenuhi udara di pesawat dengan canda tawan dan percakapan ngalor ngidul penuh makna. Dari sini aku mulai kenal lebih dalam tentang Ghivo dan Ela. They are amazing people! Literally, AMAZING! Kami berdiskusi mengenai banyak hal sampai tibalah waktunya untuk turun dari pesawat dan bertemu dengan Ibu dan Bapak Ela. Mereka sangat ramah. Kami disambut dengan berbagai masakan khas NTB. Saking enaknya, kami makan untuk kedua, ketiga, dst. Maafkan kekurang-behave-an kami Ela >.<
Beberapa hari advance kami habiskan untuk mendatangi kantor-kantor pemerintahan perihal perizinan kegiatan sekaligus berjalan-jalan untuk melihat lokasi yang bisa dijadikan tempat untuk berwisata ringan. Melakukan perjalanan bersama Ghivo berarti melakukan wisata kuliner. Kami (diberhentikan) oleh Ghivo ke tempat-tempat makan yang dikenalkan oleh Ela dan mencoba berbagai macam makanan khas NTB. Dari sini aku tahu kalau Ghivo adalah orang yang hobinya mencicipi berbagai macam makanan dalam waktu yang berdekatan >.< Heran juga kenapa dia bisa diet sebegitunya ya.

Pembangunan Rapport
Di sela-sela kesibukan itu, kami juga mendatangi warga sekitar untuk membangun kedekatan (rapport). Bukan hal yang susah untuk membangun rapport jika ada Ghivo disitu. Aku belajar banyak dari Ghivo mengenai cara membangun rapport yang baik. Tak heran jika hanya dengan beberapa hari disitu, Ghivo sudah menjadi idola para wanita. Saiq-saiq (tante) yang ada disana menjulukinya Afgan. *ga mau nyebutin alasannya, nanti berdosa kalau Ghivo takabur, hehe* Setiap malam kami berkumpul di teras rumah salah satu Saiq dan secara otomatis membuat saiq-saiq yang lain untuk turut bergabung ke dalam ‘perkumpulan’ itu. Dari situ aku mengenal lagu Bang Ocid prepet prepet prepet *Fyuh, thanks Ghivo!*. Ghivo melakukan sit down comedy dengan menggombal bersama saiq-saiq. Aku dan Ela hanya bisa tertawa. Terbahak-bahak. Dari situ aku mulai merasakan nikmatnya kehidupan berdampingan dengan masyarakat yang guyup rukun walaupun baru saling mengenal. Memberikan pengertian bahwa kami datang dengan tujuan baik yang ditunjukkan dengan tindakan-tindakan seperti itu mampu membuat warga berkenan untuk memberikan bantuan yang kami butuhkan. Berefleksi kepada diriku sendiri, tempat tinggalku di desa tidak serta merta membuatku mampu untuk langsung dekat dengan tetangga-tetanggaku. Sikapku selama ini ternyata menunjukkan bahwa diriku adalah orang yang kurang peduli dengan keberadaan mereka. Sekali lagi, thanks Ghivo! Ini pelajaran sangat berharga untuk kehidupanku.

Seminar dan Insiden Kebakaran
Pagi-pagi aku menyapu halaman rumah Ela ketika orang-orang yang lain juga sibuk memasak dan bersih-bersih rumah. Setelah semuanya bersih, aku duduk di teras bersama Ela dan Ghivo. Ada kabar. Gedung Sosiologi kebakaran. Kebakaran? Gedung Sosiologi? Kenapa sekaget itu? Karena ini adalah gedung yang hari ini juga akan dipakai oleh tim RC untuk mengadakan seminar pra-penelitian bersama dengan dosen pembimbing. Astaghfirullah. Setelah insiden tiket, muncul insiden kebakaran. Ada apa ini. Rasa sedih itu muncul lagi. Chat di grup RC menceritakan kekalangkabutan panitia untuk menyusun rundown baru dan mencari gedung alternatif. Kami bertiga berdoa. Semoga cobaan ini akan mempererat kekeluargaan keluarga KSM.

Insiden *X*
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu karena semua anggota RC akan berangkat ke NTB. Aku, Ghivo, dan Ela sudah mempersiapkan upacara pembukaan di Kantor Desa berikut jamuan makanan ringannya. Mulai dari jam 3 pagi grup whatsapp sudah dipenuhi oleh update keberangkatan menuju bandara oleh beberapa anggota RC. Kami semua semangat untuk bertemu di NTB! Beberapa jam kemudian, ada kabar kalau semua anggota RC sudah lengkap dan siap untuk memasuki loket check-in. Aku, Ela, dan Ghivo berdoa semoga proses itu dilancarkan hingga sampai di NTB dengan selamat. Namun, Allah berkata lain. *cut*
Kami mencoba untuk tetap berpikir jernih. Aku dan Ghivo duduk berjam-jam di tangga teras depan rumah Ela. Mencoba mencari solusi apa yang bisa dilakukan. Kak Adit menceritakan kronologis kejadian dengan detail. Nada suaranya tetap tegar. Aku tahu, itu Cuma suara yang dibuat Kak Adit supaya kami tidak terlalu khawatir. Kami tahu Kak Adit juga sedih dan khawatir. *cut* Aku tahu, perasaan-perasaan yang aku rasakan tidak sebanding dengan berbagai macam perasaan yang berkecamuk di kepala kalian. Beberapa jam kemudian, kami mendapatkan kepastian kalau mereka tidak bisa menyusul hari itu juga. Juga diputuskan beberapa anggota yang akan tetap berangkat dengan mempertimbangkan semua pengorbanan dan persiapan yang sudah dilakukan bersama-sama. Sayangnya Kak Adit, S4fira, Orin, Kamila, dan Imam tidak bisa ikut karena beberapa hal, *cut*. Aku, Ghivo, dan Ela kemudian mencari berbagai macam alasan yang akan diberikan kepada pengurus desa dan masyarakat sekitar yang sudah sangat berharap dapat bertemu kalian hari ini.

Menyambut Kedatangan Anggota RC
Pagi ini, Ghivo harus meninggalkan kami karena akan pergi umrah bersama keluarganya. You’ll be missed. Terima kasih petuah-petuah pembangunan rapportnya J Siangnya, aku dan Ela sangat siap menyambut kedatangan anggota RC yang lain. Mengingat semua perjuangan mereka di hari sebelumnya, aku bingung ekspresi apa yang harus aku tunjukkan kepada mereka. Sesaat kemudian mereka datang berbondong-bondong dengan bawaan masing-masing. Aku mendatangi mereka satu per satu dan memeluk erat Nuri. Nuri menangis. Aku juga ingin menangis. Tapi tidak boleh. Disaat seseorang menangis, maka kamu harus jadi seseorang yang tegar, orang yang mampu membuatnya tenang berada di samping kamu. Tanpa bercerita pun, kami sudah mengetahui apa isi perasaan masing-masing.
Sore itu hujan. Kami menuju rumah Ela menggunakan mobil bak. Kami menutupi barang bawaan kami dengan terpal. Kami melupakan sejenak semua beban. Semua air mata terhapuskan oleh rintik hujan di sepanjang perjalanan. Ah, kalian!
Setibanya di rumah Ela, aku kenalkan mereka satu per satu kepada masyarakat sekitar yang ternyata sudah berkumpul untuk menyambut kedatangan kami. Malamnya, kami melakukan rapat untuk mencurahkan semua isi hati masing-masing dan memperbaiki rundown acara.

Penelitian
Kemudian kami disibukkan oleh kegiatan utamanya, yaitu melaksanakan penelitian. Proses ini diliputi oleh segenap canda tawa bahagia. Ini yang membuat aku mengenal lebih dalam mengenai kalian satu per satu.
Nuri
Cewek satu ini adalah cewek ter-meticulous yang pernah gue kenal! Sebelum RC, doi adalah orang yang ga pernah basa-basi. Mungkin bercanda adalah kegiatan yang menghabiskan waktu menurutnya kala itu. Pernah suatu ketika gue lagi ngobrol masalah RC sama doi di telepon, beberapa kali gue mencoba untuk membuka percakapan yang lebih santai dan sedikit bercanda. Dengan jurus Avatar (anime favorit doi), doi langsung mengembalikan percakapan itu menjadi serius, serius sekali.
Namun, semua itu berubah ketika Negara api menyerang. Selama RC, doi udah terlihat mulai berubah. Doi beberapa kali bercanda, walaupun nada bicara dan isi dari bercandaan itu adalah penjelasan serius. Kami anggap itu bercanda :p Doi senang sekali menjelaskan segala sesuatu sedetail mungkin. Bercanda ama doi serasa belajar ilmu farmasi gratis, hahaha.  Mungkin karena itu, sekarang doi dikenal sebagai Kak Nuri polos kuadrat kuadrat kuadrat (ala S4fira,-*cewek yang juga dikenal atas kepolosannya*), HAHAHA. Nuri adalah orang yang mau belajar. Doi akan berusaha semaksimal mungkin tanpa menyerah untuk meraih apa yang ia cita-citakan. Sangat senang melihat banyak sekali foto kita berdua Nuri :*

Kak Adit
BAIK HATI. Ini ciri yang paling dikenal orang dari Kak Adit. Doi adalah Ketua KSM 2013 yang sangat mengayomi anak-anaknya. Karena *cut*, doi ga jadi berangkat ke Lombok. Doi harus mengurusi *cut* itu di Depok. Bukti pengorbanan seorang Ketua KSM. Kebaikan hati Kak Adit terlihat dari tindakan-tindakannya sehari-hari. Ketika danus, doi membawa sosis goreng (yang doi goreng sendiri di rumah) dan makanan lain, juga kotak es besar dari rumahnya. Doi juga menjajakan makanan danus ke sekitar Rotunda. Doi juga mendesain berbagai macam kebutuhan publikasi RC, mulai dari spanduk, banner, proposal, hingga kaos. Sebagai sesama anggota Geng Remitansi, doi gue kenal sebagai orang yang kritis. Semaleman suntuk kami berdiskusi mengenai penelitian kami. Semangat doi membuat (memaksa) anggota kami juga ikut semangat mengerjakan jurnal penelitiannya. Terima kasih Kak Adit :)

Edy
Awalnya, gue ga begitu kenal ama Edy. Doi terkesan pendiam dan jarang mengajak orang lain berkomunikasi. Agak sungkan juga awal-awal kerja sekelompok penelitian ama doi. Namun, semua berubah setelah Negara Inggris menyerang. *Kenapa Inggris? Karena doi pengen banget ke Inggris buat kuliah S2nya*. Lambat laun, doi terlihat mulai berani mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Doi adalah orang yang pinter. Apalagi bikin latar belakang proposal penelitian, sampai dipuji dosbing sebagai latar belakang terbaik :” Doi masuk ke dalam kategori orang yang gigih menurut gue. Itu terlihat ketika doi begadang sampai pagi untuk input data penelitian kelompok kami. Setelah mendengar cerita doi saat seminar kepemimpinan, gue tahu darimana kegigihan itu berasal. Semangat untuk Edinburg, Edy!

Kak Feisal
HAHAHA. Entah kenapa gue otomatis ketawa saat ngetik nama doi. “KSM sekarang egaliter ya!”, Fail Fei, SWGL, dan masih banyak istilah lain adalah hal tak terlupakan dari doi. Gue kenal deket ama doi ketika tergabung dalam satu tim konferensi. Setelah itu, kami tergabung lagi dalam kepanitiaan RC 2013. Huah! Lucu lah kakak 1 ini. Tiada hari kami tanpa ngecengin doi. *sungkem kami kak*. Kak Fei adalah orang yang baik, baik banget, mengerti kondisi orang lain, asik diajak curhat, dan tentunya, lucu (mungkin lebih pas, ‘sedikit konyol’) Hahaha. Doi pernah nanya, “Sil, kenapa sih gue selalu dicengin?”. Dengan yakin gue jawab, “Kak Fei dicengin sama anak-anak karena mereka sayang sama Kak Fei”. *ini jawaban serius loh Kak Fei*. Doi juga sering mengutarakan ungkapan-ungkapan aneh di tengah-tengah suatu percakapan. Tak pelak, hal itu sering membuat kami terpingkal-pingkal. Bahkan, melihat wajah doi pun kami bisa langsung ketawa. Entahlah dari mana doi mendapatkan aura positif itu. HAHAHA

Ela
Gadis berkerudung lebar ini adalah orang yang gue kenal sebagai orang yang sangat mensyukuri semua yang ada dalam dirinya. Doi mengingat hal-hal kecil bermakna yang mungkin menurut orang lain itu ga penting. Doi adalah orang yang so sweet. Doi pernah bilang, “Makasih Kak Silvia, aku belajar banyak banget dari kakak!”. It’s totally made my day, Ela!. Doi adalah tuan rumah RC 2013. Doi memastikan semua acara yang berkaitan dengan punggawa desa dan masyarakat sekitar berjalan dengan lancar. Walaupun masih terlihat malu-malu, tapi doi selalu mencoba untuk mengungkapkan apa yang ada di benaknya. Doi adalah orang yang mau belajar. I am so proud of you, Ela!

Kelly
Tipikal anak FH. Kritis. Doi adalah orang yang pinter nulis dan pinter berargumen. Kalau baru kenal, doi terkesan malu-malu dan pendiam. Namun, jika doi udah akrab sama yang lain, doi berani mengungkapkan semuanya. Gue kenal doi sebagai orang yang sangat menjaga perasaan orang lain, pekerja keras, dan mau membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan. Sifat-sifat itu membuat doi ditawarin magang di Polsek Beji sama Pak polisi yang ada disana, hahaha

Ghivo
Nah ini nih Bang Ocid! Orang yang terbuka, baik banget, dan sangat rela membantu orang lain, walaupun kadang-kadang gue ngerasa doi memaksa dirinya untuk membantu orang lain itu. Doi cowok paling suka kebersihan yang pernah gue kenal >.< dan doi yang ngajarin gue untuk selalu berbagi dengan orang lain. Doi orang yang pinter. Selama jalan-jalan bareng doi di Lombok, ga bosen-bosennya dengerin penjelasan doi mengenai berbagai macam hal di dunia ini, hahaha. Suara dan wajah doi yang rancak bana membuat doi dengan sangat mudah dikenal masyarakat sebagai Mas Afgan. Dan doi menerima julukan itu dengan lapang dada. *peace* Sayang sekali doi ga bisa ikut RC sampai selesai. Seandainya doi ikut RC sampai selesai, mungkin doi akan bikin panggung konser di Lombok. :3

Kamilah
Kamilah. Cewek cantik berjilbab lebar. Pinter nyanyi *kapan wacana karaoke kita akan terwijud?* dan jago jawab pertanyaan OIM Quiz, hahaha. Selama perjalanan RC, kami berhasil mengenal satu sama lain dengan lebih dekat. Awalnya, gue kenal doi sebagai orang yang sedikit malu, namun sampai pada suatu titik, doi mampu mengungkapkan perasaannya dengan terbuka, ini yang gue suka dari doi. Kami sekelompok penelitian remitansi. Karena doi tidak bisa ikut ke Lombok, jadi doi sedikit banyak kurang mengerti mengenai beberapa perubahan yang kami lakukan setelah pengambilan data. Namun, doi berperan besar dalam kegiatan pembuatan proposal PKM-AI kami. Walhasil, PKM-AI kami mendapatkan pendanaan dari DIKTI. Lalala yeyeye. :D

Hafiz
Aldi Taher. Iya, itu julukan masyarakat Semparu buat doi, karena doi dianggap mirip sama Aldi Taher. Sebelum doi populer dengan julukan itu, doi sempat beberapa saat dikenal sebagai Ridho Rhoma. Anak-anak sekitar memanggilnya Om k e r i t i n g. Hahaha. Doi orang yang suka fotografi dan suka bajak status orang (whatsapp, bbm, facebook, twitter). Sayangnya gue pernah jadi korban pembajakan itu >< Doi juga orang yang kritis dan jago SPSS. Doi adalah orang tercuek di antara anggota RC.

Mia
Ceplas ceplos. Gue inget ketika doi menyatakan perasaan sedih dan kecewanya terkait *cut* kepada kami. Ceplas-ceplos ungkapannya bikin gue deg-degan kadang-kadang, hahaha. Tapi, still, you are the mom *maksudnya, tetep mamakeeeh* hahaha. Doi orang yang suka membantu, aih apalagi pas bantu-bantu masak sama Zopa, haha Doi juga yang ngajarin Sarah cara nyuci. Ke-Gresik-annya itu loh yang bikin kami kangen mamakeh, hahaha

Pepe
Pinter. Udah itu aja.
Buat gue, doi adalah orang pertama yang membaca e-book dalam laptop dengan posisi tidur, laptop dimiringkan, dan bertahan hingga tengah malam. Setelah berhari-hari melihat kebiasaan itu, gue mendapat insight bahwa membaca itu penting. I mean, literally penting. Penting, karena gue tau makna penting itu. Ga Cuma sekadar ungkapan belaka. Awalnya, gue agak canggung deket sama doi, tapi setelah Negara komunis menyerang *kenapa komunis? Entah kenapa tapi kalau inget doi, gue inget bahasan tentang komunisme*, akhirnya gue berhasil deket ama doi. Udah itu aja. Hahaha.

Sarah
Cewek satu ini…suaranya gaol getoh! Gue inget bener ketika doi selfie-selfie di pantai. Doi mengubah image gue terhadap orang-orang dengan penampilan seperti doi *maksudnya gimana? Yagitulah pokoknya* hehe. Doi suka nonton film di saat yang lain tidur-tiduran atau di saat yang lain sedang melakukan penelitian *eh. Doi pengen menjadi ibu yang baik. Tapi perlu belajar cara mencuci dan melakukan pekerjaan rumah tangga yang lain. Doi juga suka fotografi, hasil jepretan doi keren-keren broh! Dan saking seringnya ngomongin proposal-peoposal perkawinan, doi diprediksi akan menjadi anggota RC pertama yang akan mendapatkan piala bergilir KSM.

Zofa
“Zof, telponin Imam Zof”. HAHAHA. Awalnya, gue sempet takut deket sama doi. Tapi setelah beberapa kali ngobrol bareng, doi orangnya baik bangeeets. Sayangnya beberapa sikap yang doi tunjukkan menarik orang lain buat ngebully doi. Misalnya hobi doi main Pou sampai lupa waktu, ini yang paling sering jadi bullyan. Tapi, don’t you worry Zof, bully tanda sayang, kan? *lirik Kak Fei. Doi adalah cowok yang rajin. Doi selalu bangun paling awal, langsung mandi, Salat Subuh, terus duduk-duduk di ruang tamu menunggu panggilan makan pagi sambil menyanyi. Gimana gue bisa tahu kebiasaan doi? Yeah! Ini namanya keluarga :D

Eno
Cewek satu ini jago desain grafis. Doi adalah orang yang paling sering nanya ke gue, “Gimana sih Kak cara membantu orang lain menumbukakn jiwa kreatifnya? “ Yea, doi adalah orang yang ingin orang lain punya tingkat kekreatifan sama seperti doi, jadi kalo organisasi membutuhkan poster dan spanduk untuk didesain, doi bisa mengamanatkannya kepada orang lain itu. Hahaha. Enooo Enooo. Doi pernah ngajak gue ke FH untuk dapat makanan gratis sambil ngerjain desain jurnal. Terima kasih Eno, I appreciate it! Doi suka banget sama kopi. Apalagi kopi 78. Cocok untuk menemani hari-hari doi yang penuh dengan tugas di depan laptop.

S4fira
Gadis lembut nan polos. S4fira namanya. Kalo ketawa sambil megangin perut :D Doi adalah orang yang paling sering melihat wajah *cut* secara langsung. Doi adalah orang yang tidak pernah menyakiti perasaan orang lain. Doi mencoba untuk selalu ada untuk membantu orang lain. Peran besarnya dalam RC sebagai saving collector membuat doi harus berkutat dengan sekian banyak uang, baik cash maupun non-cash. Catatan keuangan RC yang ada di doi tersusun rapi sehingga kami tidak begitu repot ketika membutuhkan rekap data keuangan. Doi adalah orang yang mau belajar. Cutie pie S4fira :3

Orin
Aksen Malang khas Orin emang selalu diingat. Doi adalah beauty peagant yang rajin, mau berkorban untuk organisasi, dan mengerti kondisi orang lain. Sayang sekali, doi tidak bisa ikut ke Lombok karena insiden X. Untungnya, rasa cinta doi tetap kami rasakan selama melaksanakan penelitian disana. Dalam proses danus, doi yang paling sering meramu puding khas RC yang akan dijual keesokan harinya. Doi berperan besar dalam kelancaran pelaksanaan RC 2013. Hugs Oriiin {}

Imam
Orang yang paling dibutuhkan Nuri selama penelitian kelompoknya. Sayang sekali, doi tidak jadi berangkat ke Lombok karena insiden X. Namun, walaupun raga tak di tempat yang sama, suara tetap bisa menjadi pengganti. Doi selalu dihubungi Nuri untuk menanyakan penelitian kelompoknya (via Zofa). Doi adalah orang yang pendiam, rajin, dan sangat rajin. Penggemar Korean Wave ini beberapa kali menjadi penyetok Running Man gue. Thankso Imam! :D

Aa’ Rahman
Selama proses penelitian, kami sangat dibantu oleh keluarga Ela, terutama Bapak Ela. Beliau yang mengenalkan kami kepada masyarakat sekitar sehingga mereka mau untuk kami wawancarai dan memberikan informasi yang sebenarnya. Lebih dari itu, Bapak Ela juga meminta kepala dusun sebelah untuk mengumpulkan masyarakatnya di masjid terdekat untuk memudahkan kami mencari informan. Lucunya, malam ketika kami diajak ke masjid untuk wawancara, baru saja halaman masjid itu digunakan untuk perayaan Isra’ Mi’raj, sehingga masih ada panggung beserta sound systemnya disana. Pada saat kami memasuki area masjid, tiba-tiba terdengar suara musik (cocok untuk musik acara pernikahan). Seketika anggota RC mulai ngeceng-cengin aku. Kenapa? Karena paginya, aku mewawancarai seorang informan bernama Rahman, selanjutnya disebut Aa’ Rahman, hehe. Saat aku mewawancarai Aa’ Rahman, tiba-tiba terdengar celetukan dari ayah Aa’ Rahman yang juga ada bersama kami untuk menjodohkan aku bersama Aa’ Rahman, hahaha. Dari situlah muncul julukan Alfamart lah, Indomaret lah – yang aku baru tahu artinya (buka cabang dimana-mana) setelah beberapa hari kemudian.

Bukit Bakan
Keesokan paginya, kami bersiap-siap untuk olahraga pagi ke Bukit Bakan. Olahraga pagi ini dilaksanakan untuk menghapuskan julukan WACANA untuk RC 2013. Kami menyusuri jalanan dengan berjalan kaki. Sesampainya di atas bukit, kami berfoto ria dan kembali berjalan pulang. Di tengah perjalanan, tiba-tiba datang hujan. Kami berteduh di depan sekolah lalu meneruskannya di satu warung kecil dan membeli pisang goreng yang dijual. Ternyata wisata kuliner pagi itu tidak hanya berhenti sampai disitu, kami berhenti di tempat makan super murah dekat dengan rumah Ela. Sesampainya di rumah Ela, kami berniat untuk mengelabui Kak Feisal sedemikian rupa sehingga kami berhasil menceburkan Kak Feisal ke kolam yang terletak di samping kanan rumah Ela. Setelah beberapa trial, akhirnya kami berhasil menceburkan Kak Feisaaaal! Yaaaay! Sayangnya, beberapa saat kemudian, ada 4 lelaki gagah yang juga berhasil melemparkan badan saya ke kolam yang sama. *huh, makasih ya!*
Selama tinggal di NTB, waktu makan adalah waktu yang paling ditunggu. Hal yang paling teringat dari sesi makan adalah ketika Zofa selalu dibully terkait insiden lauk *gamau nyeritain ah*. Selain itu, juga observasi saya kepada cara para lelaki mencuci piring. Peringkat pencuci piring terbersih diraih oleeeeeeeeh….Edyyyyy! Hahaha *penting banget diceritain*

Terima kasih, Bupati Lombok Tengah.
Hari-hari terakhir di NTB kami agendakan untuk berwisata. Kami menaiki carry untuk menuju alun-alun Kota Praya. Seingat aku hari itu adalah hari Jumat. Setelah selesai berfoto-foto di alun-alun, kami ingin meneruskan perjalanan ke rumah makan Inaq Esun, rumah makan yang sangat terkenal dengan nasi balapnya. Kami ingin menuju lokasi itu dengan berjalan kaki. Sesampainya di depan sebuah panggung khas NTB, kami ingin berfoto sebentar disana. Saat itu ada beberapa bapak-bapak yang sedang memindah-mindahkan kursi. Langsung aku meminta izin kepada salah satu bapak yang kami temui untuk berfoto. Bapak itu kemudian menanyakan asal kami. Lalu secara singkat kami menjelaskan asal dan tujuan kedatangan kami ke NTB.
Beberapa saat kemudian, bapak itu memberitahukan kedatangan kami kepada seseorang yang memakai kaos hitam, berselendang, bercincin akik, dan berkacamata hitam. Ternyata bapak itu adalah Bupati Lombok Tengah. MAIGAT! Kami bersalaman dengan beliau lalu diminta duduk di kursi yang kembali mereka tata dengan rapi. Sambil meneruskan percakapan, Bupati itu kemudian berbisik kepada ajudan di sampingnya. Tak lama kemudian, Bapak Bupati memberikan kami sejumlah uang di dalam amplop. Katanya, ini uang yang bisa kalian gunakan untuk berjalan-jalan keliling Lombok. Juga bisa kalian gunakan untuk membeli makanan di Inaq Esun. Di belakang panggung, sudah siap 1 bis beserta sopirnya yang akan mengantar kalian ke daerah manapun yang kalian mau. Bisa ke Desa Sade, Pantai Ini, Pantai Itu, Pantai Lain, Lain, Lain. Sepuas kalian. Masha Allah! Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan. Kami berterima kasih kepada Bapak Bupati dan beberapa saat kemudian, Bapak Bupati meminta izin untuk pulang menggunakan motor gedenya. Sesaat kemudian ada awak reporter media lokal yang mewawancarai kami. Aih, Reasearch Camp 2013. Di hari itulah kami bersyukur tak ada habis-habisnya. Awalnya, kami berencana untuk menghadiri undangan acara Isra Mi’raj di masjid sekitar rumah Ela. Namun, karena bis kami hanya bisa digunakan hari ini saja, terpaksa kami menggagalkan acara Isra Mi’raj itu. Seharian penuh kami berjalan-jalan ke Desa Sade, Pantai Pantai Ini, Pantai Itu, Pantai Lain, Lain, Lain. FREEEEE! Terima kasih Bapak Bupati Lombok Tengaaaah!

Undangan Komunitas Sasak
Komunitas Sasak adalah salah satu rekan media pelaksanaan RC 2013. Komunitas itu bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Kami diundang oleh Komunitas Sasak untuk menghadiri peresmian Dusun Banyumudrak sebagai desa binaan Bank Indonesia. Saat itu hadir juga Deputi Gubernur Bank Indonesia beserta istri dan rombongannya. Meriah sekali acaranya. Kedatangan mereka disambut oleh tarian-tarian tradisional NTB. Kami diajak untuk turut serta menikmati acara itu. Makanan gratis. Minuman gratis. Ketemu Deputi Gubernur BI. Dapat penjelasan mengenai desa binaannya. Sungguh, nikmat manalagi yang kamu dustakan. Terima kasih Allah J

Oleh-oleh
Hal yang tak boleh terlupakan dalam suatu perjalanan adalah OLEH-OLEH. Kami berbelanja oleh-oleh di pusat mutiara dan cindera mata khas Lombok yang lain. Insiden mutiara pun terjadi. Mia dan Sarah (yang ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik) tidak kunjung datang ke tempat berkumpul di sekitar mobil bak kami. Ternyata, mereka berdua menghabiskan lebih banyak waktu untuk menawar harga mutiara sampai ke titik paling rendah. Dasar ibu-ibu. :” Berefleksi dari belanja ini, aku mencoba membuka pikiranku mengenai perhiasan. Aku kurang suka memberikan oleh-oleh berupa perhiasan. (Mutiara berapapun harganya aku masukkan ke dalam kategori perhiasan). Namun, karena aku sedang berada di pusat pembelian mutiara, mau tak mau aku membelikan aksesoris tubuh itu untuk ibuku. Iya, bukan untuk aku sendiri. Minimnya pengetahuanku mengenai perhiasan, coraknya, warnanya, keasliannya, blah blah blahnya membuatku harus menelepon ibuku terlebih dahulu untuk menanyakan jenis apa yang beliau suka. Semoga beliau suka <3>

Pengabdian Masyarakat
Hari ini kami mengadakan seminar kewirausahaan dan seminar kepemimpinan. Seminar kewirausahaan diadakan di siang hari kemudian dilanjutkan dengan seminar kepemimpinan di malam hari. Seminar kewirausahaan diisi oleh penggiat Bank Sampah di Lombok. Dari testimoni mereka setelah selesai acara, mereka terkesan dengan seminar itu. Kami sangat berharap seminar itu bisa mengantarkan masyarakat kepada usaha baru yang tidak perlu modal mahal. Setelah itu, seminar kepemimpinan dilaksanakan di malam hari. Aku dan Edy yang akan mengisi seminar itu, dengan dimoderatori Kak Feisal. Aku dan Edy menceritakan perjuangan kami untuk meraih pencapaian seperti sekarang ini. Kami menceritakan bagaimana anak kampung yang tinggal di desa terpencil di Indonesia berusaha keras untuk meraih mimpi-mimpinya.

Perpisahan
Salah satu hal yang paling saya benci adalah perpisahan. Berefleksi kepada sikap saya sebelum tahun 2009, sakitnya rasa perpisahan merupakan satu-satunya alasan saya tidak mau berteman akrab dengan orang lain. Ya, sesimpel itu. Karena berpisah dengan orang yang dekat dan kita sayang akan terasa lebih pahit dibanding berpisah dengan teman biasa. Dan sayangnya aku sudah merasa dekat dengan masyarakat sekitar. Sedih sekali berpisah dengan mereka semua. Malam terakhir disana kami habiskan dengan berkumpul, bernyanyi bersama, dan menonton pertunjukan deklamasi puisi oleh Linda, salah seorang putri terbaik desa Semparu. Terima kasih Linda! Sampai jumpa di UI J Keesokan harinya, kami mendatangi tetangga rumah Ela satu per satu dan berpamitan. Aku menangkap ekspresi sedih mereka. Aku melihat beberapa dari mereka sampai meneteskan air matanya. Kami juga sayang kalian, :)

Insiden Ranah Kopi dan McDonald
Kesibukan apa yang kami lakukan untuk RC selanjutnya? Yaaay! Menyelesaikan laporan hasil penelitian dalam bentuk jurnal. Siapa kami? Mahasiswa. Terkenal dengan julukan? Tukang prokras. Yeah! Kami harus bermalam hingga Ranah Kopi tutup dan melanjutkannya ke McDonald Kelapa Dua sampai pagi untuk menyelesaikan jurnal kami. Dompet menipis, kantong mata bertambah. Terima kasih Pepe, Kak Maik, dan Kak Fei (anggota kelompok lain) yang turut serta menemani malam-malam kami yang penuh dengan junk food itu. Kenangan indah.

X
Hari ini tepat pukul 14.00 WIB adalah pengumuman MAPRES Fakultasku. Satu jam kemudian, aku cepat-cepat ke stasiun UI untuk naik kereta menuju *cut*. Hari itu hujan. Aku pergi sendirian. Selama perjalanan, aku mencoba untuk mengingat-ingat kembali apa yang telah ditulis dalam *cut*, bukan yang lain. Sesampainya disana, aku bertemu dengan Nuri, S4fira, dan mama S4fira *cut*. Setelah menunggu beberapa saat, lalala yeyeye. Udah gitu aja.


Dari acara ini aku mengenal kalian dengan lebih dalam.
Aku sayang sama kalian.

Terima kasih, Research Campku!

PS. Foto menyusul yah :D

Saturday, October 05, 2013

Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke 26

"We cannot always build the future for our youth, but we can build our youth for the future!"
- Franklin D. Roosevelt

PIMNAS adalah satu ajang paling bergengsi di Indonesia. Perhelatan akbar ini diselenggarakan oleh DIKTI setiap tahunnya untuk menunjukkan eksistensi mahasiswa di seluruh Indonesia dalam kompetisi ilmiah. Nah, tahun ini PIMNAS ke-26 diadakan di Universitas Mataram, Lombok. Dan, kyaaaa, tim gue berhasil jadi salah satu pesertanyaaaa, *heart*



Bersama tim (Saya, Gusva, Arum)

Welcome! Lombok International Airport

Survei Lokasi Presentasi
(Universitas Mataram)

Pembukaan PIMNAS-26
Well, what a chubby cheeks I got there..

Seragam Presentasi (udah kayak dancer, kan? :p)

Bersama Tommy, asal Ponorogo juga

Pameran Poster
Stand Poster gue (belum final sih, harusnya ada maketnya)
SPG Poster :3
Geng 228, mumumuuu (Lulu, Saya, Bitha, Dinia)
Otw Gili Trawangan ~

Bye Gili Trawangan and Senggigi
Masjid di Desa Sade

Malam Penutupan PIMNAS-26

Play hard, practice harder, guys! :)
I had fun! *hugs* Keep up a good work!
Geng Psikologi bersama Pakdhe Ibut (Mahalum Fakultas Psikologi UI)

Kembang Apiiiiii ~
Selamat tinggal Lombok!
We'll see you this January, again, Insha Allah :)

Saturday, September 28, 2013

Panduan PKM 2014

*walau belum sempat nulis cerita pengalaman di PIMNAS 26 (tugas kuliah sedabrek TT), gapapa lah ya upload panduan pembuatan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa)nya dulu :)

Download Panduan PKM 2014

Friday, June 07, 2013

SMAZA IN THE MOVE

Seiring dengan perkembangan zaman yang harus diikuti oleh perkembangan ilmu pengetahuan, maka tak salah jika SMA Negeri 1 Ponorogo (SMAZA) mempunyai suatu terobosan baru berbentuk Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI). Hal itu juga bertujuan untuk terus menambah kualitas pelayanan SMA Negeri 1 Ponorogo kepada siswa-siswinya.

Sesuai dengan BAB XIV Pasal 50 Ayat 3 Undang-Undang Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa pemerintah daerah harus mengambangkan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan menjadi bertaraf internasional (Majalah WaGa Edisi 7 tahun 2009).

Di Ponorogo, sebelum tahun 2008, setidaknya telah ada dua sekolah setara dengan SMA yang bertaraf internasional. Dan sejak tahun pelajaran 2009-2010 lalu, SMA Negeri 1 Ponorogo menyusul dengan mengubah statusnya menjadi RSBI SMA Negeri 1 Ponorogo.

Membuka kelas internasional bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali tantangan yang harus dihadapi. Selain menuntaskan kurikulum nasional, sekolah juga harus membuka kurikulum internasional. Dari segi sarana dan prasarana misalnya, kurikulum internasional sudah mengarah ke basis TI (Teknologi Informasi). Setiap ruangan harus memiliki fasilitas multimedia. Hal ini sudah dipenuhi dengan baik oleh SMA Negeri 1 Ponorogo. Namun selain itu, kemampuan TI seluruh pengajar pun harus ditingkatkan. Dengan status RSBI, semua guru harus bisa memakai komputer. Hal yang lebih sulit lagi, standar RSBI adalah 30% dari keseluruhan guru harus berkualifikasi S2. Guru harus menyajikan materi dalam dua bahasa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Sudahkan hal itu tercapai di SMAZA?! Pertanyaan yang benar-benar menggelitik penulis.

Menurut penelitian penulis, yang juga salah satu siswi SMAZA, bahwa guru Bahasa Inggrispun masih tetap mengajar dengan Bahasa Indonesia, bahkan Bahasa Jawa. Hal ini bisa menjadi tolak ukur seberapa jauh penerapan kurikulum internasional tersebut. Penulis juga menyadari seberapa besar usaha yang dilakukan oleh para guru yang melakukan kursus Bahasa Inggris untuk memenuhi standar, juga para siswa-siswi yang mencoba menerapkan English Day. Namun, dengan penerapan yang masih kurang sekali, kapankah SMAZA benar-benar mempunyai guru dan siswa yang bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris sesuai dengan hal yang harus dipenuhi sebagai sekolah yang berstatus RSBI?!

Satu lagi hal yang sangat perlu dimiliki oleh SMAZA, yaitu guru yang profesional. Bukan hanya masalah bahasa, namun setiap guru hendaknya mempunyai target mengajar setiap minggu, seperti contoh Guru A yang mempunyai target 3 bab harus selesai dalam jangka waktu satu minggu. Sehingga tidak ada istilah siswa harus masuk kelas jam ke-0 (nol / jam enam pagi) untuk mengejar ketertinggalan pelajaran di jam-jam normal. Penulis merasa bahwa masuk kelas pada jam ke-0 adalah hal yang sangat tidak normal sekali dilakukan. Salah satu hal yang mendasari hal ini perlu dihapus adalah karena letak rumah siswa-siswi SMAZA yang berbeda. Banyak para murid SMAZA yang bertempat tinggal lebih dari 20 km, yang berarti harus menempuh perjalanan selama minimal 45 menit untuk sampai ke sekolah.  Jika murid tersebut harus masuk jam ke-0, maka kurang lebih dia harus berangkat sebelum pukul 5. 15. Belum lagi jika pelajaran ke-0 diadakan antara hari Senin hingga Kamis yang juga bersamaan dengan full day school. Para murid harus merelakan dirinya berada di sekolah dan diajar selama lebih dari 10 jam. Berada di sekolah lebih dari 7 jam adalah suatu prestasi tersendiri dari SMAZA. Penulis merasa kagum terhadap keberhasilan SMAZA yang mampu mengurung semua siswanya begitu lama.

Menurut penelitian penulis, sekolah internasional seperti di Amerika Serikat masuk mulai pukul 7.00 hingga 13. 30 atau dari pukul 9:00 hingga pukul 15:30. Namun setelah sekolah berakhir, biasanya para siswanya tetap tinggal di sekolah untuk memulai aktivitas ekstarakurikuler dan olahraga yang mereka pilih, bahkan hingga larut malam. Kita bisa bandingkan bagaimana sekolah luar negeri bekerja. Mereka tidak pernah memaksa siswanya untuk tetap berada di dalam kelas dan diajar oleh guru hingga larut sore. Namun, karena kesadaran siswa itu sendiri, mereka merasa nyaman berada di sekolah karena mereka merasa sekolah adalah rumah kedua. Mereka merasa harus melakukan dan mengerjakan tugas sekolah karena kesadaran mereka masing-masing, bukan karena paksaan dari pengajar. Hal inilah yang membuat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah terasa asyik dan menyenangkan.

Alasan lain para siswa Amerika merasa nyaman ketika berada di sekolah adalah adanya fasilitas sekolah yang memadai. Contoh mudahnya saja hanyalah waktu istirahat yang cukup untuk mempersiapkan pelajaran selanjutnya, sehingga semua siswa tidak pernah terforsir waktunya hanya untuk duduk di dalam kelas, melihat guru menerangkan suatu materi, namun pikiran entah kemana. Di Cony High School, dimana penulis pernah bersekolah selama satu tahun, istirahat makan adalah 45 menit, padahal lama jam pelajaran seluruhnya hanyalah 6,5 jam. Itupun para siswa tidak perlu mengantri terlalu lama di kantin sekolah karena setiap tingkat kelas mempunyai jam istirahat yang berbeda. Didukung dengan lebar kantin antara 20x6 meter dengan lima pintu masakan (dengan masakan yang berbeda setiap hari), para siswa tidak perlu khawatir tidak kebagian tempat dan tidak kebagian makanan.

Satu hal lagi yang belum pernah penulis temui di SMAZA adalah kantin yang tutup selama jam pelajaran. Penulis secara tidak langsung membandingkan hal tersebut dengan sekolah di Amerika. Disana, kantin sekolah hanya buka selama 45 menit, hanya selama istirahat berlangsung. Hal ini bertujuan agar para siswanya tidak keluar mencari makanan di tengah-tengah jam pelajaran, atau hanya beralasan tidak ada waktu untuk ke kantin karena waktu istirahat tidak cukup. Bahkan yang lebih parah adalah siswa yang beralasan terlambat masuk ke kelas karena antri di kantin sekolah. Makananpun menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh sekolah. Dengan disidiknya semua makanan yang dijual di kantin sekolah, seharusnya tidak ada pidato kepala sekolah yang menyatakan bahwa makanan ringan yang mengandung terlalu banyak MSG adalah makanan yang tidak baik dikonsumsi oleh siswa SMAZA. Setelah semua masalah bisa teratasi, full day school pun tak menjadi beban bagi semua siswa. KBM akan menjadi menyenangkan, sekolah bagaikan rumah kedua, dan kualitas siswa pun meningkat.

Tak ada gading yang tak retak. Penulispun menyadari akan kemampuan SMAZA dan perlunya waktu untuk menjadikan SMAZA tak hanya bernama RSBI, namun juga menerapkan kurikulum yang berstandar RSBI. Berlatar belakang hasil liputan Team WaGa (Warta Ganesha) Edisi 1 Tahun 2006 dengan Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Ponorogo, Drs. Hastomo, salah satu kendala dari perwujudan RSBI adalah perlunya tambahan dana. Hal ini menurut penulis haruslah sedikit demi sedikit teratasi oleh dibukanya kelas RSBI sejak dua tahun yang lalu karena dengan dibukanya kelas RSBI, berarti setiap siswa mempunyai kewajiban untuk membayar sejumlah uang lebih untuk sekolah demi terpenuhinya sarana dan prasarana standar kelas RSBI.

Tulisan ini seingat saya diajukan ke lomba esai HUT SMA 1 Po yang akhirnya tidak menang karena ada peraturan baru lomba ini hanya diperuntukkan untuk kelas X dan XI, sedangkan saya sudah kelas XII. Oh, life!

Tuesday, June 04, 2013

Position Paper: Should Electoral College be Abolished?

The Electoral College is the name for the electors who formally choose the President and Vice President of the United States. Each of the states receives a certain number of electors, which is determined by the total number of Senators and Representatives it sends to the U.S. Congress. Therefore, each state has at least 3 electors. The Electoral College was devised by the Constitutional Convention as a procedure to elect the President by the people, at least indirectly.
When the Constitutional Convention chose a method of selecting a President, they took several problems into consideration. The first problem they had to solve was the lack of information that the people had due to poor communication. At the time the U.S. contained approximately 4 million people who lived spread apart along the Atlantic coast with very little communication or transportation. This made it difficult for the people to choose a President from a list of people that they knew little about. Another reason was the direct election of the President would give them much power.
After choosing the Electoral College as the method of selecting the President, the Framers described it in Article II, Section 1 of the Constitution. In this new procedure, the process of choosing the electors was left to the states, in order to eliminate the states’ suspicion of the federal government and members of Congress. Employees of the government were not allowed to serve as Electors. In order to prevent bribery and secret dealings, Electors from each state were required to meet in their own states rather than all together in one large meeting. Also, the Framers tried to prevent the possibility of having no majority by requiring that each Elector vote for two candidates, one of which had to be from outside their state. The person with the majority would become President, while the runner up would become Vice President. If there was no majority the election would be turned over to the House and they would select the President.
The Electoral College is not an efficient way to vote at this time because everyone can access information on the internet, television, radio, or in the press. There is no excuse to be uninformed about the candidates for President or Vice President.
In order to change the way the President is elected, it would require changing the Constitution. Amending the United States Constitution is not a small task. From the article, “The Electoral College”, there are essentially two ways to amend the Constitution. The first method is for a bill to pass both houses of the legislature, by a two-thirds majority in each. Once the bill has passed both houses, it goes on to the states. It has to pass three-fourth of the states to become a law. The second method prescribed is for a Constitutional Convention to be called by two-thirds of the legislatures of the States, and for that Convention to propose one or more amendments. These amendments are then sent to the states to be approved by three-fourths of the legislatures or conventions. The first method is the one that is commonly used.
Although there is a legal way to solve the problem, debates about the Electoral College will never end. According to the Should Electoral College be Eliminated?” article on Creators.com, Presidents Richard Nixon and Jimmy Carter both supported proposals to eliminate the Electoral College and replace it with a direct popular election, with a runoff between the top two candidates if none received at least 40 percent of the vote. The most recent example of the power of the Electoral College to elect the President and Vice President is the election of 2000, in which Al Gore won the national popular vote but lost to George W. Bush in the electoral vote.
Although Al Gore lost less than 4% of the popular vote in Florida, New Hampshire, Missouri, Ohio, Nevada and Tennessee (his home state), he lost all the popular votes in those states. If Al Gore had won any of those small, insignificant three-vote states, he would have been President. However, according to Matthew Venia, a writer for Helium online newspaper, it shows that “the Electoral College did its job.”
If we were to change and go with just the popular vote half of the states would become irrelevant. All a politician would have to do is campaign in California, Texas, New York, Florida, Illinois, Pennsylvania, Ohio, Michigan and Georgia to reach 50% of the nation. If a politician could get half of Cal, Tex, NY, FL and Ill to vote for them they would have as many votes as Al Gore had in 2000. With just a popular vote only about a dozen cities would need to be visited: LA, NY, Houston, Miami, Chicago, Philly, and a few others. No need to visit small cities like Pierre, Green Bay, or even Portland. (Should the Electoral College Be Abolished?”)
Venia’s solution to adjust the number of votes each state gets is using the Banzhaf Power Index. It measures how much power an individual has in swinging a particular contest. In the current system California measures 3.4 and New York 2.4 while Oregon is 1.2 and Kentucky is 1.2. In other words a vote cast in New York is twice as likely to affect the outcome as a vote in Oregon or Kentucky. California is three times as likely.
"We are a very different country than we were 200 years ago,” said Senator-elect Hillary Clinton.
I believe strongly that in a democracy, we should respect the will of the people and to me, that means it's time to do away with the Electoral College and move to the popular election of our President. I hope no one is ever in doubt again about whether their vote counts. (“Hillary Calls For End To Electoral College”).
Another reform worth serious consideration is for all states to do as Maine and Nebraska do, awarding electoral votes by congressional district.
Corbin Pon, in his article “Electoral College should be eliminated,” says that the Electoral College needs to be thrown out for the 2012 election and simply replaced by a nation-wide popular vote. Pon goes on to explain that United States citizens have the resources, so the voting infrastructure would not need to be changed. They have the models, as large states like California have no serious issue running popular vote elections for their chief executive officers. They have the motivation, as the smothering embers of the Gore vs. Bush Presidential election still flare up now and again with the fact that Gore lost while holding the popular vote.
Jeffry R. Fisher, a computer programmer who has been writing as an "aspiring statesman,” says that the ways to reform the Electoral College are:
1.            Don't allow states to bind electors to a particular candidate; require a secret ballot by electors,
2.            Don’t allow candidates to select electors. Every elector would become a candidate, and every Presidential hopeful would need to first prevail as an elector. Nobody would really know until after the election who the final candidates would be,
3.            Use approval voting at all stages. With approval voting for electors, the two party strangleholds on power would evaporate. With approval voting among electors, there would always be a winner, so we could eliminate all the rules about sending the election to the House of Representatives.
One of the writers of Helium online newspaper, Matthew Venia, says, “Refined, yes. Abolished, no.” He explains that the Electoral College does serve the important purpose of making votes in “flyover country” count. The idea is every state casts a ballot with size based on population. Therefore the smaller states aren't completely ignored, but the larger states do, rightfully, earn more attention. (Should the Electoral College Be Abolished?”)
Paul Shlesinger, a consultant from Virginia, who is involved primarily with the Federal government, assisting them in commercial services management, public policy, and quality assurance initiatives, says that while the Electoral College system is not perfect, it should not be abolished. Although people point out the disadvantages of the Electoral College, it is important to consider the advantages. The Electoral College is fair, simply due to the fact that the rules are known upfront. Candidates know that the only thing that counts is how many electors they end up with. They campaign based on it, and they make all their decisions with full knowledge of the rules. The Electoral College system acts as a stabilizing force. What this means is that candidates competing for electors are pulled more to the middle on issues, which helps to avoid radical, destabilizing change. In a purely popular vote system, candidates would focus on heavy population centers where the most votes could be gained. The Electoral College system, however, forces candidates to compete in states where the population is closely divided politically. The system rewards the candidate that can win independents and moderate voters. This reduces the likelihood that a candidate holding extreme views will succeed. Another benefit is that the Electoral College system ensures that non-voters are fairly represented. The point here is that the biggest benefit to the Electoral College is its ability to handle rare events that the Government may not have even considered before.
Although the Electoral College has always been the way to vote for President and Vice President, it does not mean that the Electoral College is the way to do it forever considering the development of the country. In contrast to the statement that the Electoral College system ensures that non-voters are fairly represented, non-voters consciously choose not to be represented by not voting. The Electoral College makes sense in the condition of a lack of information, but for today, there is no excuse to uninformed about the candidates for President or Vice President. A popular vote is more fair and effective than a vote by the Electoral College.








WORKS CITED
Fisher, Jeffry R. "Should the Electoral College Be Abolished? - by Jeffry R Fisher - Helium." Helium - Where Knowledge Rules. Helium, Inc. Web. 15 Mar. 2010. .
"Hillary Calls For End To Electoral College - CBS News." Breaking News Headlines: Business, Entertainment & World News - CBS News. The Associated Press, 20 Nov. 2000. Web. 23 Feb. 2010. .
Pon, Corbin. "Electoral College should be eliminated - October 31, 2008 -." Technique - The South's Liveliest College Newspaper. Georgia Institute of Technology, 31 Oct. 2008. Web. 26 Feb. 2010. .
Shlesinger, Paul. "Should the Electoral College Be Abolished? - by Paul Shlesinger - Helium." Helium - Where Knowledge Rules. Helium Inc. Web. 04 Mar. 2010. .
"Should Electoral College be Eliminated? by Newspaper Contributors on Creators.com - A Syndicate Of Talent." Creators Syndicate - The Best Content in The World. Ed. Creators Syndicate. Creators Syndicate. Web. 23 Feb. 2010. .
"The Electoral College." Electoral-vote.com: Election news. Web. 23 Feb. 2010. .

Venia, Matthew. "Should the Electoral College Be Abolished? - by Matthew Venia - Helium." Helium - Where Knowledge Rules. Helium, Inc. Web. 15 Mar. 2010. .

English-4 Class.