Friday, June 07, 2013

SMAZA IN THE MOVE

Seiring dengan perkembangan zaman yang harus diikuti oleh perkembangan ilmu pengetahuan, maka tak salah jika SMA Negeri 1 Ponorogo (SMAZA) mempunyai suatu terobosan baru berbentuk Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI). Hal itu juga bertujuan untuk terus menambah kualitas pelayanan SMA Negeri 1 Ponorogo kepada siswa-siswinya.

Sesuai dengan BAB XIV Pasal 50 Ayat 3 Undang-Undang Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa pemerintah daerah harus mengambangkan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan menjadi bertaraf internasional (Majalah WaGa Edisi 7 tahun 2009).

Di Ponorogo, sebelum tahun 2008, setidaknya telah ada dua sekolah setara dengan SMA yang bertaraf internasional. Dan sejak tahun pelajaran 2009-2010 lalu, SMA Negeri 1 Ponorogo menyusul dengan mengubah statusnya menjadi RSBI SMA Negeri 1 Ponorogo.

Membuka kelas internasional bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali tantangan yang harus dihadapi. Selain menuntaskan kurikulum nasional, sekolah juga harus membuka kurikulum internasional. Dari segi sarana dan prasarana misalnya, kurikulum internasional sudah mengarah ke basis TI (Teknologi Informasi). Setiap ruangan harus memiliki fasilitas multimedia. Hal ini sudah dipenuhi dengan baik oleh SMA Negeri 1 Ponorogo. Namun selain itu, kemampuan TI seluruh pengajar pun harus ditingkatkan. Dengan status RSBI, semua guru harus bisa memakai komputer. Hal yang lebih sulit lagi, standar RSBI adalah 30% dari keseluruhan guru harus berkualifikasi S2. Guru harus menyajikan materi dalam dua bahasa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Sudahkan hal itu tercapai di SMAZA?! Pertanyaan yang benar-benar menggelitik penulis.

Menurut penelitian penulis, yang juga salah satu siswi SMAZA, bahwa guru Bahasa Inggrispun masih tetap mengajar dengan Bahasa Indonesia, bahkan Bahasa Jawa. Hal ini bisa menjadi tolak ukur seberapa jauh penerapan kurikulum internasional tersebut. Penulis juga menyadari seberapa besar usaha yang dilakukan oleh para guru yang melakukan kursus Bahasa Inggris untuk memenuhi standar, juga para siswa-siswi yang mencoba menerapkan English Day. Namun, dengan penerapan yang masih kurang sekali, kapankah SMAZA benar-benar mempunyai guru dan siswa yang bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris sesuai dengan hal yang harus dipenuhi sebagai sekolah yang berstatus RSBI?!

Satu lagi hal yang sangat perlu dimiliki oleh SMAZA, yaitu guru yang profesional. Bukan hanya masalah bahasa, namun setiap guru hendaknya mempunyai target mengajar setiap minggu, seperti contoh Guru A yang mempunyai target 3 bab harus selesai dalam jangka waktu satu minggu. Sehingga tidak ada istilah siswa harus masuk kelas jam ke-0 (nol / jam enam pagi) untuk mengejar ketertinggalan pelajaran di jam-jam normal. Penulis merasa bahwa masuk kelas pada jam ke-0 adalah hal yang sangat tidak normal sekali dilakukan. Salah satu hal yang mendasari hal ini perlu dihapus adalah karena letak rumah siswa-siswi SMAZA yang berbeda. Banyak para murid SMAZA yang bertempat tinggal lebih dari 20 km, yang berarti harus menempuh perjalanan selama minimal 45 menit untuk sampai ke sekolah.  Jika murid tersebut harus masuk jam ke-0, maka kurang lebih dia harus berangkat sebelum pukul 5. 15. Belum lagi jika pelajaran ke-0 diadakan antara hari Senin hingga Kamis yang juga bersamaan dengan full day school. Para murid harus merelakan dirinya berada di sekolah dan diajar selama lebih dari 10 jam. Berada di sekolah lebih dari 7 jam adalah suatu prestasi tersendiri dari SMAZA. Penulis merasa kagum terhadap keberhasilan SMAZA yang mampu mengurung semua siswanya begitu lama.

Menurut penelitian penulis, sekolah internasional seperti di Amerika Serikat masuk mulai pukul 7.00 hingga 13. 30 atau dari pukul 9:00 hingga pukul 15:30. Namun setelah sekolah berakhir, biasanya para siswanya tetap tinggal di sekolah untuk memulai aktivitas ekstarakurikuler dan olahraga yang mereka pilih, bahkan hingga larut malam. Kita bisa bandingkan bagaimana sekolah luar negeri bekerja. Mereka tidak pernah memaksa siswanya untuk tetap berada di dalam kelas dan diajar oleh guru hingga larut sore. Namun, karena kesadaran siswa itu sendiri, mereka merasa nyaman berada di sekolah karena mereka merasa sekolah adalah rumah kedua. Mereka merasa harus melakukan dan mengerjakan tugas sekolah karena kesadaran mereka masing-masing, bukan karena paksaan dari pengajar. Hal inilah yang membuat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah terasa asyik dan menyenangkan.

Alasan lain para siswa Amerika merasa nyaman ketika berada di sekolah adalah adanya fasilitas sekolah yang memadai. Contoh mudahnya saja hanyalah waktu istirahat yang cukup untuk mempersiapkan pelajaran selanjutnya, sehingga semua siswa tidak pernah terforsir waktunya hanya untuk duduk di dalam kelas, melihat guru menerangkan suatu materi, namun pikiran entah kemana. Di Cony High School, dimana penulis pernah bersekolah selama satu tahun, istirahat makan adalah 45 menit, padahal lama jam pelajaran seluruhnya hanyalah 6,5 jam. Itupun para siswa tidak perlu mengantri terlalu lama di kantin sekolah karena setiap tingkat kelas mempunyai jam istirahat yang berbeda. Didukung dengan lebar kantin antara 20x6 meter dengan lima pintu masakan (dengan masakan yang berbeda setiap hari), para siswa tidak perlu khawatir tidak kebagian tempat dan tidak kebagian makanan.

Satu hal lagi yang belum pernah penulis temui di SMAZA adalah kantin yang tutup selama jam pelajaran. Penulis secara tidak langsung membandingkan hal tersebut dengan sekolah di Amerika. Disana, kantin sekolah hanya buka selama 45 menit, hanya selama istirahat berlangsung. Hal ini bertujuan agar para siswanya tidak keluar mencari makanan di tengah-tengah jam pelajaran, atau hanya beralasan tidak ada waktu untuk ke kantin karena waktu istirahat tidak cukup. Bahkan yang lebih parah adalah siswa yang beralasan terlambat masuk ke kelas karena antri di kantin sekolah. Makananpun menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh sekolah. Dengan disidiknya semua makanan yang dijual di kantin sekolah, seharusnya tidak ada pidato kepala sekolah yang menyatakan bahwa makanan ringan yang mengandung terlalu banyak MSG adalah makanan yang tidak baik dikonsumsi oleh siswa SMAZA. Setelah semua masalah bisa teratasi, full day school pun tak menjadi beban bagi semua siswa. KBM akan menjadi menyenangkan, sekolah bagaikan rumah kedua, dan kualitas siswa pun meningkat.

Tak ada gading yang tak retak. Penulispun menyadari akan kemampuan SMAZA dan perlunya waktu untuk menjadikan SMAZA tak hanya bernama RSBI, namun juga menerapkan kurikulum yang berstandar RSBI. Berlatar belakang hasil liputan Team WaGa (Warta Ganesha) Edisi 1 Tahun 2006 dengan Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Ponorogo, Drs. Hastomo, salah satu kendala dari perwujudan RSBI adalah perlunya tambahan dana. Hal ini menurut penulis haruslah sedikit demi sedikit teratasi oleh dibukanya kelas RSBI sejak dua tahun yang lalu karena dengan dibukanya kelas RSBI, berarti setiap siswa mempunyai kewajiban untuk membayar sejumlah uang lebih untuk sekolah demi terpenuhinya sarana dan prasarana standar kelas RSBI.

Tulisan ini seingat saya diajukan ke lomba esai HUT SMA 1 Po yang akhirnya tidak menang karena ada peraturan baru lomba ini hanya diperuntukkan untuk kelas X dan XI, sedangkan saya sudah kelas XII. Oh, life!

No comments:

Post a Comment

Comments here: