Sunday, May 19, 2013

Youth Migration: A Step from Haven

World Bank (2000) findings predicted that in 2020, urban cities in developing countries will host a majority of its population as the people (mostly youth) flee from rural areas. According to the United Nations, eighth of the total number of migrants worldwide are made up by young people. Several reasons of the youth migration are fleeing abusive families, discrimination, war, and mostly because of the lack of opportunities in their homeland. These reasons are the turning point of youth migration: they migrate to seek a better life, such as high educational, financial, social, and cultural opportunities.
There are positive and negative impacts of youth migration. Youth migrants may experience language barriers and difficulties in adapting to the new country’s culture. It is the result of the lacking information about the regions or countries they are going to. Media tells us well how this lacking can cause them to be easily abused and exploited. This experience will lead them into frustration and psychological problems. Thus, it is one of the causes we hear a lot of suicide or homicide issues happen in migrants.
However, as they move, they diffuse their cultural traits and ideas along with them. They can adjust their cultural background along with the culture in their new host-land. They can make a new understanding accross culture, they fight the cultural barriers, and they can make their dream to become true. As they can fight the barriers and their own weaknesses, I absolutely believe that they can get a higher education and higher standart of living.
In most cases of youth migrants, they experience positive and negative impacts simultaneously. “I can’t say I’m one thing or the other. I’m a Moroccan Berber who was born in the Netherlands, with Deutch citizenship. I’m both, and that enriches me and troubles me too, all at the same time”, said young woman with Moroccan parents in the Netherlands as quoted in UNFPA report.
I strongly suggest the migrants to live in the host-land temporarily, not permanently. This suggestion is based on my belief that youth are the agent of change. They have a power to change the situation in their homeland. As they get the advantages from their migration, they can empower the other youth in their homeland to make a better life also. Through the innovation such as social and cultural enterpreneurship, they will reduce overpopulation and competition in urban cities and develop the engagement of activities in their homeland.

Tulisan ini lolos 13th Melaka International Youth Dialogue 2013.

Cara Ampuh Menjadi Mahasiswa Bahagia di Akhir Bulan


Mahasiswa dituntut untuk hidup mandiri dan pandai mengatur kehidupannya sendiri. Apalagi mahasiswa daerah yang jauh dari orang tua. Target membahagiakan orang tua dengan nilai yang bagus sampai target untuk tidak meminta uang berlebihan terkadang menjadi momok tersendiri bagi mereka. Parahnya, hal ini semakin mengancam kesehatan di akhir bulan, ketika tugas semakin menumpuk, butuh banyak uang untuk fotokopi handouts, acara organisasi keluar kota yang tak bisa ditinggalkan, yang tentunya membuat persediaan uang semakin menipis. Mau tak mau, banyak mahasiswa memilih jalan pintas, yaitu rela mengganti pola makan secara drastis, yang biasanya pecel lele, nasi padang, ayam goreng, sekarang sayur bayam, tempe, tahu, atau bahkan hanya makan dua atau satu kali dalam sehari. Kehabisan uang di tengah jalan semakin terlihat ketika seorang mahasiswa sering menolak ajakan teman untuk makan bareng dengan alasan sedang berdiet padahal sedang extra berhemat. Dari berbagai pengalaman tersebut, akhirnya muncul beberapa solusi yang ternyata ampuh untuk mengatur keuangan selama satu bulan.

Pertama, bagi uang tersebut ke dalam amplop-amplop kecil, misalnya amplop kebutuhan sehari-hari (kebutuhan mandi, make-up, alat tulis, dll), amplop makan, amplop keperluan kuliah (fotokopi handouts, beli buku, dll), amplop hang out, serta tidak boleh dilupakan adalah amplop emergency (dipakai ketika ada hal-hal mendesak). Dengan begini, alur pengeluaran uang akan tersebar dengan baik.

Kedua, buat daftar menu makanan untuk satu bulan ke depan. Makanan yang masuk daftar lebih baik sesuai dengan budget yang dianggarkan, tentunya memenuhi syarat 4 sehat 5 sempurna. Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah tetap memasukkan menu makanan yang (agak) mahal untuk sekali atau dua kali di akhir minggu (bisa dimanfaatkan sebagai cadangan ketika diajak makan bareng sama temen). Hal ini juga bisa dijadikan reward untuk diri sendiri karena sudah berhasil memenuhi program penghematan.

Ketiga, ketika uang sudah benar-benar habis, cara paling keren untuk mendapatkan uang tambahan adalah dengan mengajar di bimbel (bisa menjadi substitusi teman yang tidak bisa mengajar), ikut lomba, atau mendaftar beasiswa. Selain akan mendapatkan uang, jiwa keilmuan kita juga akan terasah secara tidak langsung.

Berikutnya, hal yang cukup krusial adalah belanja bulanan. Mahasiswa lebih baik berbelanja di awal bulan untuk kebutuhan sebulan penuh. Hal ini berdasarkan fakta bahwa jika dihitung secara total, berbelanja barang dengan ukuran yang lebih besar dalam sekali waktu akan lebih murah dibandingkan berkali-kali membeli barang berukuran kecil. Terlebih, selain hemat uang, mahasiswa juga bisa menghemat waktu.

Terakhir, tancapkan dalam diri untuk memiliki gaya hidup sederhana serta niatkan untuk menyisihkan beberapa uang untuk berbagi kepada orang yang membutuhkan. Secara tidak langsung, hal ini akan membuat diri semakin bersyukur dengan apa yang dimiliki saat ini.

Setelah saya buktikan, beberapa tips mengatur keuangan bulanan di atas membuat pengaturan uang bulanan saya semakin baik. Manfaat yang lebih dari itu adalah saya mampu menyeimbangkan kehidupan kuliah dengan kebutuhan bersosial, misalnya buku dan handouts lengkap ada di tangan dan tidak perlu sering menolak ajakan teman untuk makan di luar, hehe.

Selamat mencoba!

Tulisan ini terlambat diajukan ke Suara Mahasiswa Okezone :|

Deception


 “Enggak kok, baju kamu bagus!”
“Maaf Kak, aku gak bisa ikut rapat karena lagi gak enak badan..”

Pernah denger kalimat itu? Atau ada yang pernah bilang gitu ke temen-temen Bunch? Wah, perlu hati-hati nih. Kalimat-kalimat tersebut bisa jadi adalah salah satu bentuk dari deception. Menurut para ahli, deception adalah membuat orang lain percaya dengan suatu informasi salah yang kita berikan supaya kita mendapatkan manfaat tertentu, termasuk melalui lelucon (jokes), pemalsuan, penipuan, bahkan pembohongan untuk hal baik (white lies). (Hyman, 1989)

Deception yang dilakukan seseorang tergantung dari tujuannya. Pertama, deception sering digunakan ketika seseorang ingin memelihara hubungan baik dengan orang lain. Misalnya, Ani terpaksa mengatakan bahwa baju yang dipakai Beta bagus semata-mata karena ia tidak ingin melukai hati Beta, walaupun sebenarnya ia tidak suka dengan model bajunya.  Kedua, deception juga sering digunakan untuk membenarkan tindakan kebohongan tertentu, misalnya tidak ikut rapat dengan alasan sakit padahal sebenarnya hanya lelah biasa. Bentuk deception berikutnya adalah untuk menjaga image (jaim) di hadapan orang lain, misalnya Cinta mengatakan bahwa ia harus sampai di rumah maksimal jam 9 malam karena ingin dianggap sebagai anak yang penurut. Terakhir, bentuk deception yang tak jarang terjadi adalah deception yang bertujuan untuk menusuk orang lain dari belakang, atau mengambil manfaat tertentu dari orang lain untuk diri sendiri. Misalnya Wina selalu berteman dengan Shafa karena Shafa dikenal sebagai anak orang yang pandai. Setiap hari, Wina selalu berada di samping Shafa untuk belajar bareng. Namun, deception Wina mulai terkuak ketika ia menolak permintaan Shafa untuk membantunya belajar materi kuis ketika Shafa tidak masuk kuliah. Hal ini Wina lakukan karena ingin nilai kuisnya lebih bagus daripada nilai Shafa.

Selain di kehidupan sehari-hari, teknik deception juga sering dilakukan ilmuan dalam penelitiannya. Misalnya ilmuan yang tidak memberi tahu tujuan penelitian yang ia lakukan kepada partisipan sampai penelitian tersebut berakhir. Teknik deception dalam penelitian masih diperdebatkan oleh para ilmuan karena dengan teknik tersebut partisipan merasa dibohongi dan tidak nyaman. Namun, ilmuan masih sering melakukan deception untuk memperoleh informasi yang akurat. 

Walaupun beberapa tujuan deception membawa manfaat untuk kita, akan lebih baik kalau kita menunjukkan sikap alami diri kita di depan orang lain. Selain berlatih untuk terus mengatakan yang sebenarnya, feedback tersebut juga bisa digunakan orang lain untuk belajar dan mengubah dirinya menjadi lebih baik. Seperti kata pepatah juga, katakan sejujurnya walau itu pahit.

Nah, temen-temen Bunch sekarang udah tau kan apa itu deception? Yuk, just be yourself and show who you really are!
Good luck!

Referensi:
Hyman, R. (1989). The psychology of deception. Annual Reviews Psychology, 40, 133.

Tulisan ini dipublikasikan di Bunch (Majalah Fakultas Psikologi UI) tahun 2013.

tumblr

Saking banyaknya orang yang punya tumblr, I tried to have one too! (tidak ada maksud untuk konformitas)
Kindly check it out:

Monday, January 02, 2012

I'm a Tanoto Scholar

Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya, yes, I'm a Tanoto Scholar :)
Inilah esai yang aku kirim ke Tanoto Foundation pas pengajuan beasiswa:


Silvia Ranny Wafiroh
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Esai Tanoto Foundation

Paguyuban Anak Ponorogo (PAP) adalah awal dari segalanya. Organisasi anak ini memberi saya kesempatan untuk mengetahui dan mencari solusi bagaimana cara mengatasi berbagai macam masalah anak di seluruh Indonesia. Berawal dari keikutsertaan saya di PAP, beberapa kali saya lolos seleksi untuk menjadi wakil Kabupaten Ponorogo dalam Kongres Anak Tingkat Propinsi hingga Nasional. Kongres itu membahas tentang pentingnya pemenuhan hak-hak anak yang ternyata selama ini masih banyak diabaikan. Kongres yang dihadiri oleh perwakilan anak dari seluruh kabupaten di Indonesia itu membuat mata saya terbuka, bahwa masalah anak di seluruh Indonesia sangat berbeda satu sama lain. Beragam masalah itu membuat saya bercita-cita untuk menjadi seorang psikolog, yang kelak bisa membantu menyelesaikan masalah mereka.

Berawal dari cita-cita itu, saya mengambil kelas Psikologi (Psychology Class) ketika saya belajar di Cony High School, Maine, Amerika Serikat sebagai siswa pertukaran pelajar tahun 2009-2010. Saya yakin dengan belajar Ilmu Psikologi, seseorang bisa mengetahui dasar kejiwaan manusia yang mempunyai kekuatan untuk memperbaiki kehidupannya. Ternyata dengan belajar psikologi secara lebih mendalam, saya mempelajari hal yang lebih banyak daripada ekspektasi saya sebelumnya. Ilmu Psikologi mempelajari olah sikap dan mental yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Hal itu yang membuat saya semakin tertarik dengan dunia Psikologi. Saya percaya, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia mampu mengantarkan saya untuk menggapai cita-cita tersebut.

Seiring dengan cita-cita saya, setelah lulus dari S1 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, saya ingin melanjutkan kuliah S2 Ilmu Psikologi berbeasiswa di Amerika Serikat. Banyak sekali disiplin Ilmu Psikologi yang lahir di Negara itu. Saya yakin, dengan belajar Ilmu Psikologi disana, pengetahuan saya akan dunia Psikologi semakin berkembang. Setelah lulus S2, saya ingin bekerja sebagai psikolog di sebuah lembaga/counselor yang saya pegang sendiri untuk membantu orang-orang yang membutuhkan penyelesaian masalah melalui Ilmu Psikologi. Tak lupa, pastinya membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan anak di Indonesia.

Hal yang sudah saya lakukan untuk mencapai rencana saya adalah saya pernah menjadi finalis perlombaan penulisan karya tulis ilmiah (LKTI) Tingkat Propinsi dengan mengambil tema “Memiliki AKTE Kelahiran adalah Hak Anak di Seluruh Indonesia”. Mengikuti LKTI tersebut adalah salah satu jalan bagi saya untuk menyuarakan kepada khalayak bahwa masih banyak sekali Anak Indonesia yang belum mempunyai AKTE Kelahiran, salah satu haknya. Selain itu, Kongres Anak Nasional Tahun 2008, Pelatihan dan Pengorganisasian Kelompok Anak Tahun 2009, Kongres Anak Jawa Timur Tahun 2007, Kongres Anak Ponorogo, Sosialisasi Hak Anak, dan beberapa acara anak lainnya juga membuat saya lebih mengetahui tentang permasalahan anak di seluruh Indonesia dan kemudian berusaha mencari solusi terbaik untuk mengatasinya.

Selain itu, hal paling berkesan yang sudah saya lakukan untuk mencapai rencana saya adalah berkunjung ke sebuah sekolah menengah di Amerika Serikat dan bertemu dengan siswa-siswa imigran dari Afrika. Kebanyakan dari mereka masih anak-anak (berusia di bawah 18 tahun) dan berjuang melawan kerasnya hidup ketika mereka masih di Negara asalnya. Mereka bercerita, di Afrika mereka hanya makan seadanya dan bahkan hingga tidak makan selama berhari-hari. Mereka tidak bersekolah, apalagi bermain komputer seperti layaknya anak-anak zaman sekarang. Hari-hari mereka isi dengan bekerja untuk membantu orang tua. Mereka rela walau harus berjalan hingga 5 km demi mendapat air untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Dari cerita mereka, saya benar-benar mengerti bahwa stereotipe permasalahan anak di seluruh dunia sangat berbeda antar Negara dan perlu adanya suatu solusi untuk menyelesaikannya.

Banyaknya dukungan dari keluarga, saudara, teman, dan guru sangat memotivasi saya untuk terus berjuang menggapai cita-cita. Walaupun hidup di Krebet yang terkenal sebagai “Kampung Idiot” (karena banyaknya warga yang melakukan perkawinan sedarah dan menghasilkan keturunan yang idiot), tidak membuat saya minder apalagi mengurungkan niat untuk bercita-cita setinggi langit. Sebaliknya, saya bangga bisa sampai titik dimana saya bisa bersekolah di Jurusan Ilmu Psikologi Universitas Indonesia. Terlebih, saya akan sangat bahagia jika saya bisa menjadi bagian dari penerima beasiswa bergengsi di Indonesia, National Champion Scholarhip dari Tanoto Foundation.

Kalau mau tau tentang Tanoto Foundation, klik aja www.tanotofoundation.org, and be the part of it!

Tuesday, August 24, 2010

Leaving for USA!!!

Tak pernah tersirat di benak saya untuk bisa melangkahkan kaki di negeri yang kaya raya seperti Amerika Serikat. Awal tahun 2008 adalah awal dari segalanya. Waktu itu, saya masih kelas X. SMA Negeri 1 Ponorogo mengundang beberapa alumni AFS-Program YES (American Field Service-Youth Exchange and Study Program) untuk bercerita tentang berbagai macam pengalamannya di Amerika. Saya sangat tertarik dengan semua hal yang mereka ceritakan, terutama ketika mereka bercerita tentang salju. Mulai saat itu, saya mulai berusaha dan berdoa semoga saya bisa lolos dari berbagai macam tes yang diadakan untuk bisa menjadi siswa pertukaran pelajar.

Pendaftaran diawali dengan pengisian 20 halaman formulir. Mulai dari nama, sampai dengan semua prestasi yang pernah diraih, rekomandasi sekolah, teman dekat, guru, hingga cerita tentang keluarga. Setelah semua formulir terkirim, selang beberapa hari, saya menghadapi tes pertama, tes tulis. Tujuh puluh siswa SMA Negeri 1 Ponorogo mendaftar dalam seleksi itu.

Dalam tes tulis, kami menjawab sekitar 160 soal berbahasa Indonesia dan Inggris tentang pengetahuan umum. Alhamdulillah saya termasuk satu dari dua belas siswa SMA 1 Ponorogo yang lolos ke tahap selanjutnya.

Tes kedua adalah tes wawancara berbahasa Indonesia dan Inggris. Pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan tentang motivasi mengapa ingin menjadi siswa pertukaran pelajar, keluarga, sekolah, dan kehidupan sehari-hari. Tak jarang pula ada yang menanyakan tentang berita-berita yang sedang update di Indonesia maupun di Amerika Serikat. Lima orang lolos ke tahap berikutnya.

Tes ketiga adalah tes dinamika kelompok. Dalam tes ini, saya dimasukkan kedalam satu kelompok yang mana anggota-anggotanya adalah siswa-siswi dari berbagai macam sekolah se-Jawa Timur. Setelah itu, kami dimasukkan ke dalam satu ruangan dan para panitia menyuruh kami untuk membuat suatu hasta karya berkelompok dari bahan-bahan yang telah disediakan panitia untuk kemudian dipresentasikan. Alhamdulillah tes ketiga berjalan dengan lancar. Dua dari lima siswa lolos ke tahap selanjutnya.

Tes selanjutnya adalah home visit and home interview. Beberapa relawan AFS datang ke rumah untuk mewawancarai orang tua dan keluarga saya yang lain. Mereka berkomentar tentang tempat tinggal saya, Desa Krebet, Jambon, yang jalannya sulit sekali untuk dijangkau. Semua orang tertawa mendengar cerita itu. Haha! Tapi saya tetap semangat untuk berjuang dan tidak pernah putus asa dengan komentar apapun. Saya percaya bahwa mencetak prestasi tidaklah dipengaruhi dari dimana kita tinggal.

Selanjutnya, pada tanggal 11-15 Desember 2008, saya pergi ke Jakarta untuk placement tes. Disana, saya bertemu dengan ratusan siswa lain dari seluruh Indonesia. Kami dihadapkan dengan berbagai macam tes, seperti SLEP (Secondary Level English Proficiency) test, wawancara langsung dengan duta besar Amerika, dinamika kelompok dalam bentuk lain, dan tes-tes lain yang bisa menunjukkan seberapa besar jiwa kepemimpinan kita karena motto dari YES program adalah “The Leaders for Tomorrow!”

Berbagai macam surat datang dari AFS yang memberitahukan bahwa saya lolos dari tes tahap nasional itu. Alhamdulillah. Akhirnya saya harus mengisi formulir-formulir lagi dengan bahasa Inggris. Saya harus bercerita tentang keluarga asuh yang saya mau, hal-hal yang boleh dan tidak boleh saya lakukan disana, nilai raport, dll. Hal yang paling terasa berat adalah untuk melengkapi formulir kesehatan karena saya diharuskan mengisi daftar imunisasi yang pernah daya dapatkan dan harus mendapatkan berbagai macam imunisasi sesuai dengan requirements dari AFS-USA.

Akhirnya tanggal 10 Maret 2009, saya resmi mempunya paspor diplomat! Hal yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dan tanggal 1 Juni, saya resmi mempunyai visa Amerika Serikat!!! (walaupun harus diawali dengan mengisi formulir khusus visa yang bertele-tele, juga ketika antre untuk diinterview oleh Dubes Amerika yang ada di Indonesia) Resmilah saya menjadi an exchange student from Indonesia to go to USA! AMAZING!

Sebelum berangkat, saya diwajibkan untuk mengikuti orientasi di Chapter Malang selama tiga hari dan di Jakarta selama sepuluh hari terakhir di Indonesia. Disana, kami dikenalkan dengan berbagai macam budaya di Amerika, bagaimana cara merespon orang Amerika yang baru kita temui, sekolah kita, teman-teman, dan ke-excited-an orang tua asuh yang akan ketemu kita.

Malam terakhir di Indonesia, diwarnai dengan tangis dan tawa. Kami mengadakan farewell party/talent show di Usmar Ismail Hall, Jakarta yang dihadiri oleh orang tua seluruh siswa juga banyak sekali tamu alumni AFS yang sekarang sudah menjadi orang besar, seperti Anies Baswedan.

Di detik-detik terakhir dengan keluarga, kami diperkenalkan satu persatu oleh panitia dan orang tua kami maju satu persatu sesuai dengan urutan panggilan. Orang tua kami kemudian menyematkan pin garuda dan Indonesia di dada kami yang menandakan bahwa kami adalah duta besar bangsa Indonesia. Semua rasa bercampur jadi satu.

Tanggal 8 Agustus 2009 adalah akhir dan awal dari segalanya! Leaving for USA!!!

I'm in the USA!!!

9 Agustus 2009!

“SUBHANALLAH!” kata yang pertama kali ku ucapkan ketika aku benar-benar menginjakkan kaki di Amerika. Semua yang aku lihat hanyalah orang berkulit putih dengan bahasa Inggris disertai senyum manisnya menyapaku, “Welcome to the USA and have a great year!” “WOW!” Aku ada di Amerika!

Beberapa hari setelah orientasi di Washington DC, aku berangkat ke Maine, dimana aku di-host. Aku bertemu dengan orang tua asuhku untuk pertama kalinya. Mary (host mom), Ather (host dad), dan Nadia (host sister) yang kala itu masih berusia 3 bulan. Dengan kemampuan berbahasa Inggrisku yang masih SANGAT MINIM SEKALI, aku sapa mereka dengan senyum paling manis yang pernah aku berikan 

Tiga bulan pertama adalah tiga bulan terberat selama masa stay-ku. Mulai dari cara mencari teman, cara berbicara supaya mereka bisa mengerti apa yang aku maksud (tak jarang aku menjelaskannya dengan bahasa tubuh, hehe), cara membuat mereka punya kesan tersendiri yang menyenangkan tentang aku, cara untuk mempresentasikan Indonesia dengan bahasaku yang masih acakadul, juga cara untuk mulai beradaptasi dengan anjing. Hampir setiap keluarga pasti punya anjing. Tak kalah berat adalah puasa Ramadhan di bulan September, ketika aku masih harus menyesuaikan lidahku dengan masakan Amerika, ada olahraga di sekolah setiap hari, hingga lama berpuasa yang kelewat batas, jam empat pagi sampai jam delapan malam, karena waktu siang mereka di musim panas lebih panjang. Tapi Alhamdulillah akhirnya tiga bulan itu berlalu dengan indah, sekarang aku tahu seperti apa sebenarnya orang Amerika itu, mereka open-minded dan mengerti dengan keadaanku yang seperti apapun.

Tiga bulan selanjutnya adalah bulan-bulan paling berkesan buat aku. Aku mulai disibukkan dengan berbagai macam kegiatan, seperti aku harus pergi ke sekolah pukul tujuh pagi sampai 1:30 siang, olahraga selama satu setengah jam, keluar bareng teman-teman, pulang ke rumah, main dengan host-sisterku yang pada saat itu masih berusia tujuh bulan, kadang-kadang keluar lagi dengan keluarga, kadang memasak ria bersama, kadang mengerjakan setumpuk PR dari sekolah, dan kadang bermain game dan nonton TV bersama host-family. Daaan, SALJU!!! Hal yang paling aku nantikan. Ternyata salju itu seperti kapas yang basah, lembut, tapi jatuh dari langit. Walau suhu dibawah 10 derajad Celsius, skiing, snowboarding, sledding, ice-skating, dan berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan salju tak kan terhenti, hehe…

Setiap bulan Oktober orang Amerika memperingati Thanksgiving Day dimana mereka memasak ayam kalkun untuk dimakan bersama keluarga besar. Setiap bulan Desember mereka memperingati Christmas, sehingga dimanapun berada, pasti terdengar lagu-lagu Natal dan berbagai macam ornamen hari Natal. Orang tua asuhku beragama Islam, Alhamdulillah, jadi kami tidak memperingati Natal. Tapi beberapa kali aku datang ke pesta Natal teman-temanku cuma untuk ikut bermain game, nonton film, dan makan-makan bersama. Kami saling menghormati adat budaya masing-masing.

Aku adalah seorang senior di Cony High School. Di Amerika, ada dua tahun untuk SMP dan empat tahun untuk SMA, dan aku ada di tahun keempat (tahun terakhir/senior year). Di sekolah, kami bisa memilih maksimal delapan pelajaran tiap tahun. Aku ambil kelas Pre-Calculus, ESL (English as a Second Language), Anatomy, Interior Design, Teen Issues, US-History, English-4, dan Psychology. Semua guru mata pelajaran sangat memaklumiku yang sedang belajar bahasa Inggris. Mereka tidak pernah menertawakanku ketika aku bertanya tentang arti dari kata-kata yang mereka ucapkan. Disana, guru adalah teman, mereka menjawab tidak tahu ketika mereka memang tidak tahu jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan siswanya. Akhirnya, bulan April 2010, aku mendapatkan gelar “Student of the Month” (siswa terbaik, yang dipilih tiap bulan) dan aku juga mendapatkan Math Award (siswa terbaik untuk kelas Matematika), Alhamdulillah 

Aku ikut International Club dan Key Club sebagai ekstrakurikuler di sekolah. International Club adalah ekstra untuk anak-anak yang bahasa pertamanya bukan bahasa Inggris, kebanyakan dari mereka berasal dari Afrika dan Cina, ada juga tiga siswa pertukaran pelajar yang lain, yaitu dari Thailand, Jerman, dan Norwegia. Sedangkan Key Club adalah ekstra untuk menjadi relawan di beberapa organisasi luar sekolah, seperti Day Care untuk ikut membantu orang menjaga anak-anak kecil, menjual beberapa macam makanan untuk membantu orang yang menderita panyakit kanker, dll.

Kami berganti olahraga di setiap musim. Untuk pertama kalinya, aku ikut tim bola voli di musim panas, tim renang di musim dingin, dan tim tennis di musim semi. Dan akhirnya aku mendapatkan JV Tennis Coaches Award / pemain terbaik olahraga tennis untuk tahun 2010. Yay!!!

Hal yang sangat menakjubkan adalah mereka mau menghafalkan lirik lagu Rasa Sayange dan kemudian menyanyikannya bersama untuk acara bernama International Gathering. Saya kagum dan merasa geli ketika mereka mencoba melafalkan huruf “r”, hehehe

Satu hal lagi adalah ketika aku diterima audisi talent show terbesar di sekolah yang diadakan tiap tahun sekali bernama Chizzle Wizzle. Event ini diadakan selama 4 hari 4 malam dengan penonton lebih dari 1500 orang tiap malam. Aku dengan segenap kemampuanku mempresentasikan Indonesia, khususnya Ponorogo dengan menari Jathil. Mereka sangat terkesima dengan kostum yang aku pakai, pakaian Jathil, yang sengaja aku bawa kesana. Aku bangga menjadi anak Ponorogo, Indonesia 

Benar-benar waktu yang akan selalu berada di hatiku.