Tuesday, August 24, 2010

USA!!! You are my ENDLESS MEMORY

Hal yang menurutku sedikit ganjil ketika berada di Amerika adalah mereka tidak punya Ujian Sekolah ataupun Ujian Nasional seperti Indonesia. Untuk lulus dari sekolah, hanyalah diperlukan nilai dan rekomendasi dari guru masing-masing kelas yang diambil. Setiap guru mempunyai standar nilai yang berbeda-beda, tetapi untuk nilai keseluruhan harus bisa lebih dari 95 atau tergantung dari kebijakan sekolah masing-masing (karena semua sekolah mempunyai hak otoriter untuk menentukan sendiri kebijakan sekolah yang akan diambil).

Dan akhir tahun pelajaranpun datang, hal yang paling ditunggu setiap siswa adalah Graduation atau upacara kelulusan. Setiap sekolah pasti mengadakan Graduation Ceremony atau upacara kelulusan dimana semua siswa yang lulus SMA mengadakan upacara formal di suatu tempat yang resmi pula. Sekolahku mengadakan upacara kelulusan di Gedung Augusta Civic Center yang dihadiri oleh semua keluarga dari siswa, bapak ibu guru, juga semua perangkat Dinas Pendidikan Daerah. Hal yang paling indah adalah ketika kami dipanggil satu persatu untuk maju ke atas panggung kemudian Bapak Kepala Sekolah beserta beberapa Bapak Ibu dari Dinas Pendidikan memberi Diploma (Ijasah) kepada kami diiringi tepuk tangan seluruh penonton yang datang.

Setelah selesai upacara kelulusan, semua siswa yang telah dinyatakan lulus harus ikut suatu Graduation Party dari sekolah yang diberi nama Project Graduation. Bertempat di gedung yang sama, acara ini dimulai pukul 20:00 hingga 05:00 pagi. Ini sengaja diadakan semalam suntuk untuk menghindari pesta-pesta bebas yang biasa diadakan oleh siswa siswi yang telah lulus di luar sekolah. Untuk menarik perhatian para siswa, sekolah memberi ratusan doorprize yang diundi setiap jam. Lebih lama berada disitu, lebih besar kesempatan mendapatkan doorprize yang lebih besar. Di tempat itu disediakan pula berbagai macam makanan dan minuman gratis juga berbagai macam game yang bisa dinikmati bersama.

Tepat pukul 03:00, aku mendapatkan doorprize sebuah kulkas. Aku kaget dan bingung bagaimana cara membawa doorprize itu kembali ke Indonesia, haha. Tapi untungnya selang beberapa hari, salah satu temanku mau membeli kulkas itu dariku (karena aku jual dengan harga miring) juga karena dia perlu kulkas untuk asrama barunya di kampus.

Disana tidak pernah aku temui sepeda motor, hanya sekali-sekali kutemui moge (motor gede) yang dikendarai oleh orang-orang dewasa. Dan itupun hanya waktu musim panas. Setiap siswa SMA mengendarai mobilnya ke sekolah. Bagi siswa yang belum mempunyai SIM (Surat Izin Mengemudi) diantar jemput oleh bus-bus milik sekolah.

Sebagian besar dari siswa SMA yang sudah berusia diatas 18 tahun, dibelikan mobil oleh orang tua mereka sebagai sarana transportasi selayaknya orang tua Indonesia membelikan motor untuk anaknya. Namun, untuk keperluan bahan bakar, sepenuhnya adalah tanggungan dari siswa itu sendiri. Jadi tak salah kalau banyak siswa SMA yang bekerja paruh waktu. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai pelayan restoran (waiter/waitress), nanny (babysitter), atau juga sebagai guard di kolam renang. Dengan gaji $6.5-$8.5 (Rp 60.000 – Rp 80. 000) per jam, mereka harus pandai-pandai mengatur keuangan disamping untuk membeli bensin, juga ditabung untuk biaya kuliah.

Pada bulan terakhir di Amerika, barulah kusadari arti dari open-minded dan understanding (rasa saling mengerti akan perbedaan). Setiap kali aku bertemu dengan teman, keluarga, ataupun guru-guruku, kami selalu saling memeluk dan bertanya kabar. Setiap kali aku minta mereka untuk berfoto denganku, mereka selalu mengikatkan tangan mereka ke pinggangku. Terkadang mereka bercerita tentang kesan mereka kepadaku dan hal-hal lucu lain yang pernah kita alami bersama. Mereka berkata, “We had fun with you!” dan mereka mengajakku pergi ke tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi.

Pagi hari terakhir bersama mereka di Maine, mereka mengajakku ke pantai bersama (untuk yang kedua kalinya). Mereka hanya ingin menunjukkan seperti apa sebenarnya pantai Amerika itu (yang ternyata kita sebagai orang Indonesia harus bersyukur karena mempunyai alam termasuk pantai yang jauh jauh lebih indah daripada milik mereka).


Sorenya, mereka datang ke rumahku hanya untuk ngobrol dan bermain game. Aku kira itulah saat terakhir aku bertemu mereka, tapi ternyata mereka datang kembali ke rumahku malamnya. Dan itulah benar-benar saat terakhir aku bertemu mereka. Kami berpelukan dan said goodbye, hingga beberapa dari mereka meneteskan air mata  Mereka keluar rumahku dengan kalimat terakhir, “I love you, Silvia <3 .="" hatiku="" itu.="" kata-kata="" menangis="" mendengar="">Malamnya adalah hal paling buruk dalam masa stayku di Amerika, BERPAMITAN KEPADA ORANG TUA ASUH!!! Malam itu juga, kami duduk di ruang keluarga. Kemudian orang tua asuhku memberikan hadiah terakhir untukku yang salah satunya adalah kalung yang satu sisinya bergambar beberapa hati yang saling terhubung, kata mereka itu adalah simbol dari keeratan sebuah keluarga. Sisi lainnya bertuliskan, “In our hearts, ALWAYS Mohammed Family”. Hanya sekedar informasi, setiap keluarga di Amerika mempunyai nama belakang yang sama, sesuai dengan nama belakang dari kepala keluarganya. Keluargaku bernama Mohammed Family karena host dadku bernama belakang Mohammed. Host sisterku, Nadia, memberikan buku anak-anak yang biasa aku bacakan untuknya tiap malam berjudul “Llama-Llama Red Pajama”. Setiap kali aku baca buku itu, aku selalu teringat akan Nadia dan Amerika.

Terima kasih bapak, ibu, adik, teman-teman, juga seluruh guru-guruku TK PGRI Jambon, SD Negeri 2 Krebet, SMP Negeri 1 Kauman, dan utamanya SMA Negeri 1 Ponorogo yang telah membantu dan membimbingku, sehingga saya bisa pergi ke Amerika.

Thank you for all the experiences America! I’m going to miss you, so much 

Thursday, August 27, 2009

THANK GOD!

Thanks a lot, Ya Allah!!!
Only that I can say to explain all things I got in here.

I have been living with my new (host)family. I think, they are a crazy family :) I LOVE THEM!!! A LOT!!!

Yesterday, Wed, August 26, 2009, I went to one of the AFS volunteers' house to talk about my program for the next one year, so that night I stayed overnight at his house with my friend from Germany, Hendrik.
It was my first time being away from my host family since then. I really miss them, my host dad, my host mom, also my sweet host sister. 

I went to Camden City to go to Bald Rocks Trail. I walked for 5 miles to get to the top of the hill. Was feeling really tired because it was Ramadhan so I was in a fasting for the whole day. But after I got to the top of the hill, SUBHANALLAH, AWESOME!!! I saw so beautiful ocean and some islands around it. And also one thing that made me wanna cry: there was a very wide green area. I asked the volunteer what was that, he said it is actually some cities in Maine; it looks like a beautiful green forest if we see it from above. Wow! I never think that I can find such a view here!!!

I came home exhausted and felt so cold because of the weather.

---
Today!
Volley ball practice as usual! 10:00 - 11:30 AM. Had a conditioning session, run run run!
Went back home and asked by my host fam: How was the volleyball going on Silvia?. I said: so bad :D

The thing that we can learn from a school in the USA is they give more attention to the students, such as for the athletes, they give us knowledge about Athletes food and drink, which I never had it before :) They also invited athletes families to have a dinner together and to discuss on how sports in school can exist and achieve more.

They have a very big gymnasium as well, just like Usmar Ismail Hall in Jakarta.

Everything is just different here!!!

Love U SMAZAPO.
Love U Cony High School.

Friday, August 14, 2009

WOW...

Welcome Silvia...
Welcome Silvia...
Welcome in the USA, enjoy your trip! :)

Sering banget aku dengar dari orang-orang (asing) disini.

Wow! Pertama kali aku datang kesini, aku ngerasa aneeeeeeeeeeehhhhhhhhhh banget, aku pengen nemuin sesuatu yang sering aku temuin di Indonesia, tau gak??!!! SAMPAH. Tapi aku engga nemuin sampah di tengah jalan, di pinggir jalan, dimana aja, aku ngerasa aneh bgt, iya sekaget itu :))

START!!!
Aku nyampe di USA tanggal 9 Agustus 2009, setelah menempuh perjalanan panjaaaaaaaaaaang banget mulai dari bandara Soekarno - Hatta Jakarta terus ke Bandara Kuala Lumpur Malaysia, lanjut ke Frankfrut Germany. Hingga sampailah di Dullas Washington DC, USA.

Perjalanan belum berhenti. Dari Bandara Dullas aku dijemput AFS Volunteeer, naek bus ke Hotel Hilton, busnya pun luarrrr biasa, bedaaaaaaaaaa bgt :D
Di Hilton, aku ada kegiatan orientasi YES 3 hari sampe tgl 12 Agustus, disana aku ketemu sama anak Saudi Arabia, Egypt, India, USA, dllllllll. Hotelnya keren banget :)))

Abis ntu aku naek pesawat 2 jam ke state-ku, Maine. Aku tiba di bandara Portland, dijemput AFS volunteer ke rumahnya. Disana aku makan, istirahat, juga salat.

Abis ntu aku diajak ke college gt, orientasi chapter.
Disini ketemu anak dari Eropa, Austria, Japan, Hong Kong, dlllll.
Wih, dapet temen deket, dari France :)))

Aku disini sampe besok, 15 Agustus, trus aku ke rumah host familyku...
Wah, gak tau deh disana ngapain aja :D

Disini ntu, orang2 pke Bahasa Inggris (yaiyalah...)
Pusing banget kadang2, mulai harus mendengarkan, menerjemahkan, jawab pertanyaannya, karena orang USA tuh ngomongnya banyak buanget,, tanya22222222222 trus (hahahahahahahaha)
Tapi aku seneng bgt, npa?! karna dsni hotspot senegara!!!! (bagaikan,, hehehe, cz dmana aja bs ngenet, gak lelet loh!!!) Ini aja aku nulis sambil tiduran di taman sama teman2 yang lain :D
Pokoke, yang jelas, semuanya beda disini...

Tunggu posting selanjutnya yah...

Tuesday, April 14, 2009

POEM

Menuju Ruang

Harapan

Ku berjalan di sebuah lapangan kehidupan

Tuk menemukan sebuah jawaban

Bagai orang dalam belenggu

Ku ingin menemukan suatu kebebasan

Kebebasan tuk menuju kesenangan

Tetapi aku tak berdaya tuk semua itu

Walau hanya goresan pena, sebait puisi

Dan hanya secarik kertas

Bagi orang dengan penuh pertanyaan

Dapat memberi mu suatu jawaban

Dan bagi orang dalam kegelapan

Dapat memberi mu cahaya terang

Tuk menuju sebuah ruang harapan

Munajat Cinta...


YA ALLAH?
Aku Mohon KepadaMU CintaMU?
Cinta Siapa Saja Yang MenCintaiMU?
Cinta Apa Saja Yang Mendekatkanku Kepada CintaMU..
Jadikanlah CintaMU Lebih Berharga Bagiku
Daripada Air Dingin Bagi Orang Yang Kehausan?

YA ALLAH?
Jadikanlah Aku MencintaiMU Dengan Sepenuh Hati?
Selalu Mencari RidhaMU Dengan Upaya Maksimalku?

YA ALLAH?
Jadikanlah Semua Cintaku Hanya UntukMU?
Semua Usahaku Hanya Untuk Meraih RidhaMU?

YA ALLAH?
Hidupkan Aku Dengan CintaMU?
Matikan Aku Dengan CintaMU?
Bangkitkan Aku Dengan CintaMU?
CintaMU Bagiku Adalah Segala-galanya?

Oh Rabbi?
Jika Cintaku Kau Ciptakan Untuk Dia
Tabahkan Hatinya
Teguhkan Imannya
Sucikan Cintanya
Lembutkan Rindunya

Rabbi....
Jika Hatiku Kau ciptakan Untuk Dia
Penuhi Hatinya Dengan KasihMU
Terangi Langkahnya Dengan CahayaMU
Bisikkan Kedamaian Dalam Kegalauan
Temani Dia Dalam Kesepian

Rabbi...
Kutitipkan Cintaku PadaMU Untuknya
Resapkan Rinduku Pada Rindunya
Mekarkan Cintaku Bersama Cintanya
Satukan Hidupku Dan Hidupnya
Dalam CintaMU?
Sebab, Sungguh Aku Mencintainya KarenaMU..

KREBET JUGA PUNYA…

-->
Krebet yang identik dengan banyak kekurangan ternyata bisa mempersembahkan sesuatu yang mungkin tidak dimiliki oleh desa lain. Sebagai bentuk partisipasi anak, Krebet mempunyai paguyuban yang bernama “ Paguyuban Anak Krebet ”. Paguyuban tersebut sekarang sedang mempersiapkan sebuah event yaitu Pentas Kethoprak yang disponsori oleh Gema Surya Radio dan bekerja sama dengan Pusar Ponorogo sebagai sarana pendukung event tersebut.
Tak hanya anak-anak Krebet saja yang ikut serta dalam kegiatan itu, tetapi juga anak Sidoharjo. Walau sekarang Sidoharjo sudah mempunyai paguyuban sendiri, KOMPAS ( Komunitas Anak Sidoharjo), tetapi untuk lebih memaksimalkan potensi anak Sidoharjo, gak ada salahnya kan kalau mereka saling kerja sama?!
Untuk lebih mematangkan persiapan, semua anak yang tergabung dalam Sanggar Seni Kethoprak Krido Manggolo itu mengadakan latihan rutin setiap Minggu pagi dan Rabu sore di Balai Desa Sidoharjo. Walau mereka berasal dari daerah yang berbeda, dalam setiap latihan mereka terlihat sangat kompak dan nyaris tidak ada perbedaan sedikitpun di antara mereka.
Selain itu, kegiatan tersebut menuai respon positif dari warga sekitar. Ada beberapa warga yang rela meluangkan waktunya hanya untuk melihat bagaimana latihan kethoprak yang diikuti oleh ± 30 anak tersebut. Tak mau kalah, anak-anak sekitar Balai Desa Sidoharjo pun ikut berpartisipasi melihat latihan kethoprak itu.
Rencananya, Pentas Kethoprak ini akan diadakan ± empat kali dalam empat bulan ke depan di Radio Gema Surya. Nah, sebagai awal pentas, anak-anak Sanggar Seni Kethoprak Krido Manggolo mengambil judul Jaka Kendil. Dan sebagai langkah awal, untuk melatih mental pemerannya, mereka terlebih dahulu akan mementaskan judul tersebut di Balai Desa Sidoharjo yang akan dilaksanakan pada pertengahan April ini.
Usut punya usut, jika penampilan perdana mereka di Gema Surya Radio kelak sukses dan berhasil, maka anak-anak Sanggar Seni Kethoprak Krido Manggolo akan dikontrak oleh Gema Surya Radio untuk menampilkan sandiwara kethopraknya setiap bulan di Gema Surya Radio.

Tulisan ini diterbitkan di majalah Paguyuban Anak Ponorogo (lupa tahun berapa).

Cerpen: HE… HE… HE… AKHIRNYA, I GET IT!!!

“Kak Diztra, nanti aku mampir ke rumah Kakak, setelah itu Kakak ikut aku ke rumahku ya?”harap seorang anak yang mulai beranjak dewasa, Vira.
“Okey, Viraku, cantikku…”
Beginilah percakapan yang biasa dilakukan oleh dua anak yang bagaikan air laut dengan garam. Gak bisa dipisahkan de…
Mereka baru saja pulang dari Australia. Dari kecil, mereka diajari bahasa Indonesia secara aktif oleh orang tuanya. So, dalam urusan bicara bahasa Indonesia, yakinlah kalau lafadz mereka sangat fasih.
Emang, Vira adalah anak yang cantik, anak yang gak materialistis, dia dibesarkan dalam lingkup keluarga yang tercukupi. Walaupun begitu, tak sedikitpun rasa sombong dalam benaknya, yang sekaligus dapat menjadi nilai positif dalam dirinya.
________________________________________
One day, sebuah pesta diadakan di lingkungan Vira. Diztra tak luput dari banyaknya hadirin yang hadir.
“Vir, Vira…”. Suara seseorang yang sudah tak asing lagi di telinga Vira.
“Kak Diztra…”balas Vira sembari mencari sumber suara yang memanggilnya.
“Hai Vir, pa kabar? Kita kok ketemu di pesta seperti ini ya? Kok gak ketemu di sebuah tempat yang romantis? Padahal, aku pengin…”
“Apaan sih. Kabarku baek, Kakak juga baekkan? Nie pesta kakaknya temenku. Emang temen kakak juga ya?”
“Kabarku juga baek. Ni pesta temenku. Ntar dulu ya, aku mau nemuin pengantinnya, sapa tau setelah aku ngucapin selamat, aku bisa dapat cewe’ cantik, kaya’you.”
“Ah, Kakak. Dah sana temuin pengantinnya daripada nyliwur gak karuan.”
“OK!!! Bye…”
“Hai Vir?”Sapa seorang lelaki yang dilihat dari suaranya adalah seorang yang gagah.
“Hai… Eh, Kak Fian. Gak nemuin pengantinnya? Ko’di sini.”
“Aku dah nemuin pengantinnya ko. Tadi yang bicara ma kamu di sini sapa Vir?”
“Oh, itu Kak Diztra.”
“Siapa kamu? Temen ato…”
“Temen sepermainan. Aku dulu selalu maen ma dia. Kami bagaikan adik dan kakak.”
“Bener?”Mulai Fian mengintrogasi Vira.
“Hayo, cemburu ya? Kak, aku ini masih kecil. Eitt, jangan panggil aku anak kecil.”Vira menenangkan suasana. Menenangkan suasana?
“Gak ko, cuma tanya ja.”
“Bentar ya Kak, aku mau ke belakang dulu coz da urusan dikit.”
Mulailah Vira merasakan kehidupan yang jauh berbeda dengan kehidupannya dulu di Australia. Sekarang ia tak biasa ngomong bahasa Inggris.
________________________________________
Keesokan harinya, Diztra datang ke rumah Vira, seorang diri. Ketika itu, Vira di rumah juga gak da temen karena ortunya pergi ke luar kota, ada tugas kantor.
“Kak Diztra?”
“Hai Vir, ko’ bengong gitu? Kaya’liat cowok ganteng aja.”
“PeDe amat, aku gak bengong ko’cuma melongo ja...”
“You gak berubah ya Vir, dari dulu sampe sekarang tetep asyik.”
“Vira is Vira. Bukan Vira is Diztra.”
“Maksud loe?? Aku seneng banget deh Vir you ngomong gitu.”
“Ngomong pa? Kaya’e aku sama ja, ngomong ke cowok laen juga seperti itu.”
“You dah jadi play…”
“Stop!!! Silahkan lanjutkan ceramah Anda setelah pesan-pesan berikut. Saudara Diztra, saya berpesan kepada Anda supaya bicara dengan nada yang sopan karena yang play-play bukan cuma saya. Anda juga playboy, bahkan Anda lazim disebut Playboy cap Sapi!!!”
“Ye… Siapa yang playboy? Aku tadi tuh hanya pengin ngomong kamu sekarang dah tahu play love ato bermaen cinta.”
“Dah ah! Ngomongin yang laen aja.”
“Denger-denger computer you punya aplikasi baru ya?”
“Ya iyalah…”
“Maen donk!!!”
Persahabatan adalah ikatan yang saling memanfaatkan. Ya gak??!
“Eh, da tamu. Silahkan masuk Kak!” sapaku pada pria terkeren di lingkunganku.
“Makasih!”
“Kak Diztra, nie aku kenalin. Ini kak Fian, rumahnya Jl. Mawar Berduri.”
“Hai, aku Diztra, temen dekete Vira…”
“Fian.”
“Vir, malem minggu da acara gak?” Tanya Diztra.
“Ada gak ya? Bingung ne…”
“Vira mo jalan-jalan ma aku Diz..” ucap Fian tiba-tiba.
“Bener Vir?”
“?????????, gak tau.”
Yah, suasana makin memanas, lebih baek kita pasang AC berkekuatan ganda.
“Kok gak tau si?”
“Vir, kamu kemaren kan udah janji ma aku, kita mau jalan-jalan ke taman.”
“I… Iya. Sorry ya kak Diztra, aku mau jalan ma kak Fian.”
“Iya de… Kali ini aku yang ngalah. But kapan-kapan kita keluar yach?”
“Oche….”
________________________________________
“Kak Fian, ngapa kakak ngomong kalo kita mau jalan-jalan? Kita kan gak ada janji.” Kataku sok disiplin.
“Vir, aku mau ngomong ma kamu.”
“Dari tadi loem ngomong ya?”
“Nie ngomong beneran. Kamu jawab yang jujur ya?”
“Insya Allah aku jujur kalo aku mampu jujur pada Kak Fian.”
“Vir, sejak aku kenal kamu, sejak aku temenan ma kamu, kamu ngerasa gak ada sesuatu yang aneh di diriku?”
“Gak da tuh. Mulai aku dateng kesini, kakak dah jadi anak keren. Sekarang pun kakak masih tetep anak keren, di lingkungan sini.”
“Bukan itu yang aku maksud.”
“What?”
“Aku cuma pengen ngomong, ehm… I’m to you Vir! ”
“Do you seriously?”
“Very serious!!!”
“Kalo ini aku belum bisa jawab sekarang. Eh, ada roti bakar. Beli yuk?”
“Kamu suka roti bakar? Aku juga suka. Berarti kita serasi donk! Pertanyaanku tadi gak usah kamu jawab aku dah tau kok jawabannya!”
“Apa coba?”
“Ya kita sekarang dah resmi.”
“Iya, dah resmi jadi tetangga… Kak, aku belum bisa jawab sekarang, aku lom bisa berfikir jernih saat ini.”
“Kapan-kapan ja gak pa-pa kamu jawabnya. Yang penting jawaban kamu mutualisme.”
“Gampang!!!”
________________________________________
Hari-hari Vira lewati dengan penuh warna, tapi buram. Entah apa yang dipikirkannya. Wajah yang biasa tersungging manis, kini berubah jadi akar-akar yang tak sempurna. Pipi merah meronanya, berubah menyerupai bulan, halus tak halus. Mondar-mandir gak karuan. Akhirnya……
“Kak Fian, maaf aku gak bisa jadi seperti yang kakak inginkan. Aku masih pengen sendiri.” Ucapku dengan nada setengah hidup.
“Maksud kamu?”
“Ya, aku gak bisa…”
“Tapi aku dulu kan pengen jawaban kamu yang mutualisme Vir?”
“Kak, ini yang terbaik buat kita berdua. Kita mungkin belum dipertemukan Tuhan saat ini.”
“Em… Gak apa, yang penting aku dah tau jawaban kamu yang sebenarnya, jadi kan nggak menggantung.”
“Kak, makasih ya kak? Kakak nggak marah dengan jawabanku.”

“Vir, pa yang kamu omongin dengan Fian kemaren?”
“Rahasia donk!!!”
“Ya udah kalo rahasia. Keluar yuk Vir?!”
“Kemana?”
“Ke rumahku.”
“Sekarang?”
“Yup! Sekarang!”
“Okey…!!!”
Di rumah Diztra…
“Vir, kamu mau minum pa?”
“Pa aja yang penting kakak yang buat!!”
“Air putih aja ya?”
“Hah?! Masa’gadis cantik kaya’aku gini dikasih minum air putih? Cape’dech…!!!”
“He… he…”
Sesaat kemudian…
“Nieh… Jus melon special buat Vir…us!!”
“Kurang ajar,,, tapi rasanya enak kok”
“Vir.. I love you Vir!!! Sejak aku bener-bener mengenal kamu, aku mulai sadar bahwa kamu adalah seorang gadis yang sejak lahir aku cari. Kamu yang cantik, periang, baik hati…”
“I love you too Diz!!!”
“Beneran Vir??”
“Kak, mulai aku beranjak dewasa, makin hari aku makin tahu apa artinya cinta, yang sering dibilang orang tu cinta hanya buat luka… Tapi aku yakin, cinta yang hadir disampingku ini adalah cinta sejatiku!!!”
“Yuhuuuuuuuuuuiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!”